Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Khas Kalimantan Selatan Banjarmasin
Bubur Sagu Randang
- 1 Desember 2017

Salah satu bubur khas Kalimantan Selatan ini termasuk #jajanantempodoeloe.

Terbuat dari bahan unik yg banyak di jumpai di pasar - pasar tradisional di seluruh kawasan Kalimantan Selatan, yaitu 'sagu randang'. Belum ada yg tau?  Bahan ini asalnya dari saripati tanaman sagu rumbia yg menghasilkan tepung sagu basah kemudian diolah atau diproses kembali sehingga menghasilkan produk olahan baru yg disebut 'sagu randang' tadi.

Bentuknya mirip sagu mutiara tp butiran-butirannya lebih kasar. Rasanya hambar. Warnanya sedikit kusam. Ketika di masak dia cepat matangnya, beda dgn sagu mutiara.

 

Bahan-bahan

8 porsi
250 gram 'sagu randang'
  1. 6 cangkir air
  2. 100 ml santan instant (pake yg kemasan 200 ml, nanti dibagi 2 utk saus)
  3. 1/4 sdt garam
  4. Seperlunya gula pasir
  5. 1 lembar daun pandan
  6. 150 gram gula merah
  7. 1 cangkir air (untuk merebus gula)
  8. ðŸ' saus santan ðŸ' 
  9. 2 1/2 cangkir air
  10. 100 ml santan instant
  11. Sedikit garam
  12. 1/2 sdm tepung kanji (dilarutkan dgn sedikit air dingin) ---> optional
  13. 1 lembar daun pandan
     
    Langkah - langkah :
    • Rebus dulu gula merah dgn 1 gelas air hingga mencair, kemudian saring.
    • Sagu rendang' di cuci bersih (dibawah air mengalir), lalu tiriskan (gunakan saringan santan sebagai penirisnya jd butiran halusnya masih bisa ngumpul ngga kebuang).
    • Didihkan 6 gelas air, masukkan 'sagu randang' serta daun pandan. Masak hingga sagu berubah menjadi bening di atas api sedang sambil terus di aduk (di foto ini airnya ada kecampur santan sedikit, tp ngga masalah).
    • Masukkan sebagian santan instant (nanti sisanya untuk campuran saus santan). Aduk rata.
    • Tuang larutan gula merah. Beri garam. Aduk rata. Tambahkan beberapa sendok gula pasir hingga mendapat rasa manis yg sesuai selera
    • Masak sambil diaduk terus menerus hingga bubur mengental. Angkat.
    • Saus santan : Campur 2 1/2 gelas air dgn sisa santan instant, larutan kanji, daun pandan serta garam. Rebus di atas api kecil sambil terus di aduk-aduk hingga mendidih. Angkat. (larutan kanji boleh diabaikan jika kurang suka saus santan yg agak kental dikit)
    • Sajikan bubur bersama saus santan. Selain itu, selagi bubur masih hangat jg bisa langsung dihidangkan tanpa menambahkan saus santan karena ketika masih hangat bubur masih setengah encer.
    • Tapi ketika sudah dingin, bubur akan mengental dan cenderung menggumpal jd perlu disajikan dgn tambahan saus santan.
     
    sumber : https://cookpad.com/id/resep/280902-bubur-randang
     
    Lokasi penjual:
    Warung Kembar
    Alamat: Jl. Pangeran Abdurrahman, Cindai Alus, Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan 71213
     

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker