Brengkes Tempoyak - Sumatera Selatan
Brengkes Tempoyak merupakan masakan tradisional Sumatera Selatan yang umumnya menggunakan ikan patin sebagai bahan utamanya. Sisi menarik kuliner yang satu ini adalah penggunaan fermentasi durian sebagai campuran bumbunya. Sehingga cita rasa yang dihasilkan oleh Brengkes Tempoyak menjadi unik, perpaduan antara rasa gurih, manis, pedas, dan asam dalam satu hidangan.
Secara etimologi, nama brengkes berasal dari Jawa yang sepadan maknanya dengan pepes, yaitu cara mengolah daging ikan yang dikukus bersamaan dengan rempah. Sedangkan tempoyak merupakan nama bumbu olahan berbahan dasar durian yang dicampur dengan sedikit garam. Untuk menghasilkan tempoyak yang baik dibutuhkan durian yang matang, garing, dan berkadar air sedikit. Lamanya fermentasi berkisar antara 7-14 hari.
Bahan yang digunakan untuk membuat Brengkes Tempoyak antara lain adalah cabai merah, bawang, sereh, gula jawa, laos, dan kunyit. Bahan-bahan tersebut kemudian dihaluskan untuk dijadikan bumbu. Dalam pembuatan Brengkes Tempoyak, biasanya dipilih ikan patin sebagai bahan utamanya. Abas, salah seorang chef pengelola rumah makan yang ada di Jalan Diponegoro kota Palembang mengungkapkan, ikan patin dipilih karena rasanya lebih gurih dibandingakn dengan ikan lainnya.
Cara membuat Brengkes Tempoyak sangat sederhana, mulanya ikan patin dibersihkan dari sisiknya, lalu potong dengan besar sesuai selera. Masak bumbu yang telah dihaluskan, lalu masukkan tempoyak yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah bumbu dan tempoyak bercampur, lalu masukkan ikan patin yang sudah dipotong-potong. Masak hingga matang dan bumbu tempoyak meresap ke dalam ikan.
Bahan Pembuatan Brengkes Tempoyak Palembang:
Bumbu:
Cara Membuat Brengkes Tempoyak Palembang:
Keterangan:
Tempoyak adalah semacam terasi dibikin dari durian.
Alamat & Kontak Penjual:
Rumah Makan Pindang Musi Rawas
Jn. Angkatan 45 no 18, Palembang 69313
0812-3289-582
Sumber
http://asliresepindonesia.blogspot.co.id/2013/09/resep-brengkes-tempoyak-palembang.html
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara