Botok ikan asin daun singkong menjadi salah satu kuliner yang kerap disajikan di sejumlah warung makan di wilayah kecamatan Palas. Daerah yang mayoritas warganya berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak begitu asing dengan makanan yang terbuat dari parutan kelapa dan campuran bahan lain yang dikukus dan lebih nikmat disantap dengan nasi tiwul, nasi terbuat dari singkong.
Desa Tanjungsari, Kalirejo, Indagiri, Blora sejak dahulu dikenal sebagai penghasil singkong dan hasil olahannya berupa kerupuk, getuk, keripik hingga tiwul sekaligus daunnya bisa dijadikan sayuran sehingga makanan berbahan singkong cukup umum di sini, termasuk botok ikan asin daun singkong.
Proses pembuatan botok ikan asin daun singkong cukup sederhana. Bahan bahan penunjang di antaranya ikan asin, daun singkong, setengah butir kelapa agak muda diparut, cabai hijau yang diiris tipis, belimbing wuluh, daun salam, daun singkong muda secukupnya dan daun pisang sebagai pembungkus. Selain itu, bumbu yang dibutuhkan, bawang putih, kencur, garam, gula jawa dan bawang merah. Semua bumbu tersebut dihaluskan sebelum dicampurkan.
Salah satu kunci agar ikan asin lebih empuk, sebelum disertakan dalam bahan botok, terlebih dahulu ikan dicuci bersih selanjutnya direndam dengan air panas selama 30 menit sembari menyiapkan bahan bahan pembuatan botok. Setelah bahan disiapkan dan bumbu dihaluskan, semua bahan dicampurkan dalam wadah baskom dan diadon hingga tercampur sempurna dengan parutan kelapa masih muda, daun singkong muda, serta bahan lain. Setelah tercampur sempurna dengan komposisi pas dibungkus dengan daun pisang lalu direkatkan dengan lidi agar tidak lepas saat dikukus dan bisa dibuat sekitar puluhan bungkus, sesuai kebutuhan. Proses selanjutnya, semua bahan yang dibungkus dengan daun pisang tersebut dikukus dalam sebuah dandang dengan pemasakan menggunakan tungku kayu. Botok yang dimasak selama kurang lebih 45 menit tersebut tingkat kematangannya bisa dicek dengan membuka salah satu bungkus.
Kematangan yang juga terlihat dengan menyatunya botok saat dibuka akan berbentuk mengikuti pola pembungkus sehingga bisa diangkat dan ikan asin sudah empuk, daun singkon telah matang berikut bahan lain. Selain dengan nasi, botok ikan asin daun singkong akan tambah nikmat jika dinikmati dengan nasi tiwul yang berasal dari singkong dimasak dengan cara dikukus. Kuliner botok ikan asin daun singkong tersebut saat tidak dibuat kerap bisa dibeli di pasar tradisional yang dijual dengan harga Rp 500 perbungkus bisa dijadikan teman makan nasi yang lezat.
sumber; https://www.cendananews.com/2017/11/menikmati-botok-ikan-asin-daun-singkong-khas-pedesaan-palas.html
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...