Makanan Minuman
Makanan Minuman
Jajanan Tradisional Sulawesi Selatan Makassar
Bolu Rampah
- 15 Maret 2017

Bolu Rampah atau bolu rempah adalah salah satu dari kue khas Makassar. Kue Bolu Rampah terbuat dari tepung terigu, telur, dan gula merah. Bolu Rampah sebenarnya tidak berbeda dari kue bolu pada umumnya, namun dalam proses pembuatan kue ini terdapat keunikan tersendiri yaitu dengan adanya tambahan bubuk rempah (kayu manis bubuk). Selain itu kue bolu rampah juga memiliki tekstur yang lembut, ringan dan empuk.

RESEP BOLU RAMPAH

Bahan-bahan:

  1. 220 gram tepung terigu protein sedang
  2. 150 gram gula palem bubuk
  3. 100 ml minyak goreng atau margarine atau mentega cair
  4. 50 gram gula pasir
  5. 50 gram susu bubuk full cream (opsional)
  6. 20 butir kacang almond atau kenari cincang kasar
  7. 7 butir telur ukuran besar
  8. 2 sendok teh bubuk spekuk
  9. 1 sendok teh kayu manis bubuk
  10. 1/2 sendok teh garam halus
  11. 1/2 sendok teh baking powder

 

Cara Membuat:

1. Campurkan telur, gula palem bubuk, dan gula pasir. Kocok dengan mixer berkecepatan rendah hingga tercampur merata. Naikkan kecepatan mixer, kocok semua bahan tadi hingga pekat, mengembang dan kental.

2. Masukkan tepung terigu ke dalam adonansambil diayak, aduk donan dengan cepat dan lembut, gunakan teknik aduk balik.

3. Masukkan minyak goreng, aduk kembali adonan hingga rata.

4. Siapkan oven dan atur suhunya menjadi 170 derajat Celcius, letakkan rak pemanggang di bagian tengah oven. Sapkan loyang yang bebentuk budar dan ada lubang di tengahnya, beril olesan margarine secara merata kemudian taburi dengan tepung terigu lalu balikkan loyang untuk membuang kelebihan tepung.

5. Berilah taburan kacang almond cincang pada bagian dasar loyang. Lalu tuangkan adonan ke dalam loyang, panggang selama 45 menit hingga permukaan kue tampak berubah warna menjadi kecoklatan dan matang.

6. Angkat dan keluarkan kue dari dalam oven. Biarkan kue selama 10 menit hingga uap panasnya hilang, setelah itu balikkan loyang untuk mengeluarkan kue bolu rampah, biarkan kue dingin. Sajikan di atas piring.

 

Bisa dibeli di:
MAMA Toko Kue dan Es Krim 
Jalan Serui No.19, Pattunuang, Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90173
(0411) 3617453
 

 

 

 

Sumber:

https://cookpad.com/id/resep/2648015-bolu-rampah-khas-makassar

( https://dapur-teh-enur.blogspot.com/2016/08/cara-membuat-bolu-rampah-khas-makassar.html)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu