Kukus kentang lalu lumatkan, tunggu dingin, sisihkan.
Tepung, gula, ragi, baking powder : campur rata, tambahkan kuning telur lalu aduk rata lagi (tidak perlu diuleni sampai lumat hanya perlu aduk rata saja sampai adonan kasar).
Tambahkan kentang dingin yang sudah dilumatkan, uleni sampai kalis (bila perlu tambahkan air suam kuku). Kemudian tutup dengan kain lembab atau plastik wrap (saya letakkan di atas magic com) sampai adonan mengembang 2x lipat (1-2jam).
Sambil menunggu adonan, saya membuat isian dengan memasak keju parut dalam panci tim yang direbus di atas air mendidih
Tambahkan larutan susu bubuk dicampur tepung tapioka dimasak sampai larutan keju mengental kemudian tambahkan sedikit garam sesuai selera dan bila perlu saja, sisihkan bahan isian ini lalu masukkan freezer sampai keju agak mengeras dan mudah dipotong tapi jangan sampai beku.
Sementara itu buat juga toping (hiasan) dengan mencampurkan tepung beras ke larutan air hamgat sampai membentuk pasta kemudian campurkan gula dan pewarna secukupnya.
Setelah adonan tepung mengembang 2x lipat lalu tinju dan diuleni lagi sampai elastis lalu potong beberapa bagian untuk dibulatkan (seukuran cup cake tapi sisakan ruang sedikit agar mengembang). Sisihkan adonan, tutup dengan plastik wrap atau lap lembab tunggu 10 menit.
Pipihkan adonan dan masukkan isian dengan memotong dadu keju lalu bulatkan lagi kemudian masukkan ke cup.
Hias bulatan adonan dalam cup dengan sendok untuk meratakan (tipis saja).
Lalu setelah semua adonan dihias kemudian letakkan wadah cup cake berisi adonan tersebut ke cetakan cup cake yang diletakkan dalam loyang yang ditutup plastik wrap, tunggu 20-25 menit sampai adonan mengembang membentuk retakan.
Ini ada juga bluder yang coba-coba ditopingin pakai whip cream.
sumber :https://cookpad.com/id/resep/4266797-bluder-jamur-mozarella-homemade
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara