Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Timur Lamongan
Biawak Bumbu Rujak - Lamongan - Jawa Timur
- 7 Maret 2018

 "Nyambek (Biawak, red), Kodok, Bekicot" itulah kata-kata yang diucapkan Kustiningsih, penjual kuliner ekstrem apabila ada pengunjung yang singgah di Depot Indah, Dusun Klubuk, Desa Sumbersari, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini. 

Di Lamongan selain terkenal dengan Soto Lamongan, Tahu Campur dan Sego Boranan hingga beberapa makanan laut sebagai kuliner khas, ada satu lagi kuliner unik yang bisa jadi menantang adrenalin untuk mencobanya. Makanan ini tidak lazim dikonsumsi, bisa di katakan cukup 'ekstrem' bagi orang yang hanya sekadar ingin mengetahui rasanya.

Bagi sebagian orang awam, Biawak yang biasa di sebut Nyambek oleh orang Lamongan, tentu saja sangat menyeramkan dan menjijikkan dan terlihat aneh jika dijadikan sebagai makanan. Bentuk Biawak cukup menyeramkan karena menyerupai buaya dalam bentuk yang lebih kecil.

Memang, bagi sebagian orang tentu tak terbayangkan bila Biawak itu bisa dijadikan makanan lezat. Bahkan menjadi salah satu kuliner yang paling dicari. Biawak tak hanya sekedar bisa untuk dikonsumsi tetapi juga memiliki khasiat yang baik untuk tubuh manusia dengan beberapa kandungannya. 

Menurut Kustiningsih, masakan kuliner ekstrem yang dijualnya, sering dinikmati oleh warga setempat maupun warga luar kota untuk berkunjung ke tempatnya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

"Hampir setiap hari ramai, tidak hanya hari libur, ada yang makan disini. Ada yang dibungkus, kalau yang kerja di kantor biasa di bungkus, 20 sampai 50 bungkus. Untuk Nyambek, sehari habis 3 ekor kalau besar. Saya jualnya dari pagi jam 7 sampai jam 9 malam WIB," ungkap Perempuan berusia 50 tahun ini.

Namun, sambung ibu dua putri dan dua cucu ini, ada juga pembeli yang memang sengaja mencari makanan ekstrem ini untuk memenuhi kebutuhan pengobatan. "Mereka makan ini karena rasanya, alasan lain untuk menyembuhkan penyakit, bisa untuk obat gatal, alergi, liver, buat luka-luka," terangnya. 

Disinggung mengenai cara pembuatannya, Kustiningsih menuturkan sebelum dijadikan makanan, beberapa bagian dari hewan seperti buaya  tersebut dikuliti hingga bersih dan dikeluarkan bagian organ dalamnya untuk dicuci. 

"Prosesnya, Nyambek disembelih lalu kulitnya diambil terus di potong-potong kecil, setelah selesai semua di cuci bersih," jelasnya.

Selanjutnya, lanjut dia, daging yang sudah dipotong-potong dimasukkan ke dalam presto. "Supaya dagingnya lebih empuk, jadi makannya enak. Waktu di presto belum di kasih bumbu," terang Kustiningsih.

Ia menjelaskan, paska diangkat dari presto, baru kemudian daging Biawak ditaburi bumbu-bumbu dan di goreng hingga matang. "Kita masak cuma satu menu, Biawak bumbu rujak," papar Kustiningsih.

Untuk cara penyajiannya sendiri, Biawak bumbu rujak dihidangkan dengan sambal yang pedas. "Rata-rata suka pedas kalau makan Nyambek. Ibu-ibu juga banyak yang suka karena hangat di badan," terang Kustiningsih yang sudah berjualan masakan ekstrim sejak tahun 1989 ini. 

Sumber : https://m.timesindonesia.co.id/read/133116/20160920/233207/kuliner-ekstrem-lamongan-biawak-bumbu-rujak/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker