Setiap daerah pasti memiliki tradisi dalam menyambut kepulangan jamaah haji ke kampung halamannya, termasuk di Betawi. Orang Betawi mengucapkan kata "haji" dengan "aji". Sampai saat ini, tradisi ini masih ada dan dijalankan di beberapa tempat di daerah DKI Jakarta yang masih kental adat dan budayanya.
Menurut beberapa sumber yang saya kutip, seminggu setelah Lebaran Aji, suasana kampung akan ramai. Keluarga yang anggotanya menunaikan ibadah haji, akan sibuk mempersiapkan rumah mereka dalam rangka menyambut kepulangan jemaah haji tersebut. Warga kampung pun tak terkecuali ikut dalam hingar-bingar kepulangan jamaah haji tersebut. Di ruang tengah, ruang tamu, sudah digelar tikar atau karpet dan disiapkan kasur di atasnya. Disiapkan juga masakan khas Betawi, terutama sayur asem, pecak ikan gurami, dan sebagainya.
Saat rumah dibersihkan dan disiapkan, sebagian keluarga yang lain akan pergi menjemput keluarganya yang tiba dari Tanah Suci. Kemudian, begitu jamaah haji sampai di rumah, petasan segera dibunyikan. Pembakaran petasan ini sebagai tanda kepada warga kampung bahwa bapak dan atau ibu haji sudah tiba di rumahnya dengan selamat dan sehat walafiat. Jamaah haji tersebut biasanya akan menghampiri warga kampung yang telah menunggunya di sepanjang jalan. Selama perjalanan ia ke rumah itulah, si jamaah akan menyambut ucapan selamat dan doa-doa yang diucapkan oleh para warga. Tak lupa selama sesi bersalaman, diperdengarkan shalawat oleh para remaja masjid sekitar kampung untuk menambah rasa ketaqwaan di kampung tersebut.
Selain minta didoakan, para warga juga mengharap oleh-oleh yang dibawa jauh dari Tanah Suci. Oleh-oleh tersebut biasanya berupa air zamzam, pacar, sajadah, kurma, kacang arab, siwak, gincu dan sebagainya.
Jamaah haji yang mampu dan memiliki dana lebih, biasnya mereka akan mengadakan pengajian atau acara syukuran dengan memanggil ulama atau ustaz untuk memberikan tausiyah kepada warga di sekitar rumahnya. Selain itu, yang baru pulang haji akan diberian kesempatan menceritakan pengalamannya ketika beribadah haji. Hal tersebut diharap sebagai motivasi kepada warga lainnya agar menyegerakan niat dan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji.
Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah dua minggu. Dan, bagi orang Betawi, jamaah haji yang baru pulang tidak boleh keluar rumah yang sifatnya santai atau kongko-kongko sebelum 40 hari. Orang Betawi yang pulang haji dipanggil dengan Pak Haji atau Bu Haji. Disebut Bang Haji jika usianya masih muda. Penyebutan ini merupakan kehormatan karena gelar haji bagi masyarakat Betawi menempati posisi yang terhormat karena yang bergelar haji ini menjadi bagian dari elite Betawi.
Haji Betawi juga juga dikenal dermawan dan berkorban; sering mengadakan santunan dan bagi-bagi berkat karena gemar mengadakan syukuran, maulidan, dan tahlilan serta mau mengorbankan harta mereka untuk kepentingan umum, seperti mewakafkan tanah untuk masjid dan madrasah. Dan masih banyak hal-hal yang mereka lakukan untuk sesama, sebagai wujud menambah keimanan mereka.
Orang Betawi memahami dan memaknai haji sebagai ibadah yang menyempurnakan keislaman mereka. Karena keislaman mereka sudah sempurna, harus diiringi dengan akhlak yang juga harus lebih baik daripada sebelum berhaji. Terlebih, perjuangan untuk bisa berhaji tidaklah mudah, biayanya juga mahal. Sayang sekali jika setelah haji, kelakukan sama bahkan lebih buruk dari sebelum haji.
Semoga jamaah haji Indonesia yang pulang ke kampung halamannya menjadi haji yang mabrur, haji yang mampu menjadi panutan karena kereligiusannya, kedermawanannya, pengorbanannya, dan akhlak yang baik.
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...