Alkisah, ada enam orang laki-laki bersaudara. Suatu hari, ayah mereka meninggal dunia dan hanya meninggalkan warisan berupa lima petak sawah. Oleh karena mereka berjumlah enam orang, sedangkan sawah yang diwariskan hanya lima petak, maka masing-masing berebut untuk memilikinya. Setiap orang bersikeras ingin memiliki sepetak sawah, hingga akhirnya terjadilah pertengkaran di antara mereka.
Untuk menengahi agar pertengkaran tidak berkelanjutan, maka orang yang paling tua pun berkata: “Sebaiknya kita bertanding bicara saja. Siapa yang paling besar biacaranya dialah yang akan memiliki seluruh petak sawah yang diwariskan ayah. Janganlah kita bertengkar terus-menerus.” Mereka pun menyetujui pendapat kakaknya.
Setelah itu, mereka lalu duduk berkeliling dan mempersilakan saudara mereka yang paling tua untuk memulai pertandingan. Berkatalah yang tertua: “Pada suatu ketika saya pergi ke hutan dan mendapati sebatang pohon yang sangat besar. Betapa besarnya pohon itu, sehingga saya memerlukan waktu sehari semalam untuk mengelilinginya!” Mengangguk-angguklah saudaranya, yang lain mendengarkan perkataan kakaknya itu.
“Ah, belum hebat itu,” kata adiknya yang nomor dua melanjutkan: “Suatu saat, ketika sedang dalam perjalanan, saya menemui sebuah pahat yang tertancap di tanah. Begitu besar dan tingginya pahat itu hingga ujung gagangnya mencapai langit!”
Menyahutlah adiknya yang nomor tiga: “Masih ada yang lebih hebat dari itu. Suatu ketika saya medapati seekor kerbau yang sangat besar. Begitu besarnya kerbau itu, sehingga ujung tanduknya saja dapat digunakan untuk bermain bola!”
“Ah, belum seberapa itu. Saya pernah mendapati sebatang rotan yang sangat panjang sehingga dapat melingkari bumi ini,” kata adiknya yang nomor empat.
Menyahutlah adiknya yang nomor lima: “Masih ada yang melebihi itu. Saya pernah mendapati sebuah masjid, bahkan saya sempat bersembahyang Jumat di dalamnya. Begitu besar masjid itu sehingga dari tempat saya sholat tidak dapat melihat imam yang ada di muka. Dan, andaikata dapat dilihat pun, besarnya hanya seukuran kuman.”
“Sekarang tinggal giliranmu, adik bungsu. Apa yang akan engkau katakan?” tanya saudaranya yang paling tua.
Si bungsu berkata: “Saya pernah mendapati sebuah bedug yang hanya sekali dipukul mendengung terus-menerus. Bahkan, dengungannya masih dapat didengar sampai sekarang. Cobalah tutup kedua telinga kalian, pasti masih terdengar dengungan itu.”
Saat kelima orang itu menutup telinganya masing-masing, segeralah terdengar dengungan yang sebenarnya hanya angin saja. Dan, karena merasa takjub, sang kakak yang sulung pun segera berkata: “Di mana memperoleh kayu untuk membuat rangka bedug yang dapat mendengung demikian lama?”
“Saya kira engkau pernah mendapati sebuah pohon yang sangat besar yang untuk mengelilinginya saja memerlukan waktu sehari semalam. Nah, pohon itulah yang dijadikan sebagai rangka bedug,” kata si bungsu.
“Lalu, alat apakah yang digunakan untuk membuat rangka bedug itu?” tanya saudaranya yang nomor dua.
“Saya kira engkau pernah melihat pahat yang matanya tertancap di tanah sedang gagangnya di langit? Pahat itulah yang dipakai untuk memahat kayu untuk rangka bedug.”
Menyahutlah saudaranya yang nomor tiga: “Lalu, di mana memperoleh kulit untuk membuat bedug itu?”
“Bukankah engkau tadi mengatakan, pernah melihat kerbau yang sangat besar yang ujung tanduknya saja dapat digunakan untuk bermain bola? Nah, kulit kerbau itulah yang digunakan untuk membuat selaput getarnya. Sedangkan, tanduknya digunakan sebagai alat pemukulnya,” ujar si bungsu.
“Lalu, di mana memperoleh bahan untuk mengikat dan menggantung bedug itu?” tanya saudaranya yang nomor empat.
“Bukankah engkau pernah melihat rotan yang panjangnya dapat melingkari bumi ini? Nah, rotan itulah yang digunakan untuk mengikat dan menggantungkan bedug,” jawab si bungsu.
“Wah, berarti bedug itu memiliki ukuran yang sangat besar. Lalu, di mana tempat menaruh bedug itu?” tanya saudaranya yang nomor lima.
“Loh, bukankah engkau pernah bersembahyang di masjid yang karena sangat besar ukurannya, sehingga sang imam hanya terlihat seperti kuman? Kalau engkau lebih memperhatikan lagi, tentu kau akan menjumpainya. Bedug itu di gantung di salah satu sudut masjid dan digunakan sebagai penanda waktu sholat,” jawab si bungsu.
Mendengar penjelasan si bungsu itu, kelima kakaknya mengangguk-angguk. Dan akhirnya, mewakili keempat saudaranya yang lain, si sulung pun berkata: “Engkaulah yang menjadi pemenangnya, dik. Engkau berhak memiliki seluruh harta warisan dari ayah!”
Referensi:
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara