Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Arsitektur Kalimantan Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan
'Benteng Madang'

Benteng Madang merupakan salah satu situs bersejarah yang berada di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Benteng ini dibangun seiring dengan pecahnya Perang Banjar pada tahun 1859. Benteng ini dibangun atas permintaan Pangeran Antasari dan Demang Lehman kepada Tumenggung Antaludin. Dulunya pada zaman Belanda, Benteng Madang merupakan salah satu benteng pertahanan pribumi. Benteng ini dibangun dengan kayu dari pohon Madang dan dari bambu yang tumbuh disekitarnya. Pada zamannya, benteng ini tidak pernah tertembus oleh pasukan Belanda.

Pihak Belanda sudah mengeluarkan banyak biaya, amunisi, dan pasukan untuk membobol benteng ini, tapi tidak pernah berhasil. Konon katanya pernah ada pasukan Belanda yang mencoba untuk melihat benteng ini pada malam hari dari dekat namun, mereka tidak melihat apa-apa selain semak belukar.

Benteng ini diperkirakan mempunyai ukuran seluas 400 meter persegi  dengan dua tingkat agar lebih mudah memantau musuh, katanya dulu para pasukan pribumi menggelindingkan batang pohon dari atas  gunung untuk menghalau pasukan Belanda yang mencoba menaiki gunung.

Setelah berperang cukup lama, akhirnya pasukan Belanda dapat menerobos Benteng Madang namun, yang mereka temui hanya benteng kosong dengan satu mayat yang ditinggalkan disana. Para pasukan pribumi sendiri sudah ditarik mundur dari benteng tersebut.

Untuk mengenang bahwa ada benteng di atas Gunung Madang, dibuatlah sebuah replika Benteng Madang dari semen, pemandangan dari atasnya pun terlihat sangat indah.

Tentu bukan Cuma Benteng Madang yang merupakan situs bersejarah di Hulu Sungai Selatan, dan tentu kita sebagai warga negara yang baik harus dapat menjaga dan merawat situs-situs bersejarah tersebut.

#OSKMITB2018

Source: http://arifbillah123.blogspot.com/2014/10/benteng-madang.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

bagus buat liburan

jadi ini yahh, yang namanya benteng madang. Tempatnya keren sihh, namun jauh dari orang jualan, yang ingin liburan bingung buat makan siang dan wahana yang ada di sekitarnya. Overall keren abis..

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Sayang Anak 5k
Ritual Ritual
Nusa Tenggara Barat

Istilah "Sayang Anak 5k" merujuk pada sebuah fenomena sosial dan hiburan rakyat yang sangat lekat dengan suasana pasar tradisional, pasar malam, maupun ruang publik lainnya. Kalimat "sayang anak, sayang anak..." merupakan jargon khas dan ikonik yang biasa diserukan dengan lantang oleh abang-abang penyedia wahana permainan odong-odong. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian para orang tua yang sedang melintas atau berbelanja agar bersedia menyenangkan buah hati mereka.Seruan ini bermakna rayuan hangat agar orang tua rela menyisihkan uang senilai Rp5.000 (5k) sebagai tiket masuk. Dengan biaya yang sangat terjangkau tersebut, anak-anak sudah bisa merasakan kebahagiaan luar biasa menaiki wahana odong-odong yang biasanya dihiasi lampu warna-warni dan diiringi alunan lagu-lagu anak ceria. Praktik ini tidak hanya sekadar transaksi ekonomi kecil-kecilan, melainkan telah menjadi sebuah tradisi atau "ritual" hiburan murah meriah yang menghadirkan senyum dan tawa...

avatar
Ophal
Gambar Entri
Dodol Kinca
Makanan Minuman Makanan Minuman
Nusa Tenggara Barat

Dodol Kinca merupakan kuliner tradisional khas Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikenal dengan cita rasa manis legit serta teksturnya yang khas. Berbeda dari dodol pada umumnya, dodol ini dibuat dari campuran buah kinca (kawista) dan gula, dengan tambahan sedikit tepung tapioka sebagai pengikat, yang dimasak hingga mengental. Buah kinca sendiri adalah sebutan lokal untuk buah kawista, yang memiliki perpaduan rasa manis dan asam dengan aroma yang khas. Selain varian manis, Dodol Kinca juga memiliki variasi rasa pedas yang memberikan sensasi unik. Hidangan ini tidak hanya menjadi sajian khas, tetapi juga mencerminkan identitas kuliner serta tradisi masyarakat Bima dan Dompu.

avatar
Adam Adi
Gambar Entri
Tradisi Rimpu
Pakaian Tradisional Pakaian Tradisional
Nusa Tenggara Barat

Rimpu merupakan tradisi busana khas perempuan suku Mbojo di Bima, Nusa Tenggara Barat, yang dikenakan dengan menggunakan dua lembar kain sarung untuk menutup kepala hingga seluruh tubuh. Lebih dari sekadar pakaian, Rimpu merepresentasikan nilai kesopanan, identitas budaya, serta ketaatan terhadap ajaran Islam. Tradisi ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya rimpu mpida yang dikenakan oleh perempuan belum menikah dengan menutup seluruh wajah kecuali mata, serta rimpu colo yang digunakan oleh perempuan yang telah menikah dengan memperlihatkan wajah. sumber gambar: https://etnis.id/menjaga-spirit-budaya-rimpu-di-tanah-rantau/

avatar
Adam Adi
Gambar Entri
Beberuk Terong (Rusu/Lasuk) Khas Lombok
Makanan Minuman Makanan Minuman
Nusa Tenggara Barat

Beberuk Terong atau yang biasa disebut dengan Rusu/Lasuk oleh masyarakat Lombok adalah makanan khas Lombok yang terbuat dari terong bulat mentah yang dipotong kecil-kecil dan dicampur sambal tomat yang pedas, cukup mirip dengan sambal pelecing. Beberuk Terong biasanya disajikan sebagai pelengkap untuk makanan utama seperti ayam taliwang, sate rembiga, atau ikan bakar. Membuat Beberuk Terong ini sangat mudah dan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang sering kita gunakan di dapur. Berikut bahan-bahan dan cara pembuatan Beberuk Terong: Bahan Terong bulat hijau/ungu Kacang panjang (opsional) Cabai rawit Bawang merah Tomat Terasi Jeruk Limau Garam Sedikit minyak goreng Cara Pembuatan Potong kecil-kecil terong bulat, bisa dipotong dadu atau diiris Potong kecil-kecil kacang panjang, jika menggunakan kacang panjang Untuk sambalnya, uleg kasar cabai rawit dan juga terasi Masukkan irisan bawang merah dan tomat, uleg kasar Tambahkan garam dan aduk ra...

avatar
jellygoldfish
Gambar Entri
Songket Palembang
Motif Kain Motif Kain
Sumatera Selatan

SEJARAH SINGKAT Songket Palembang memiliki akar sejarah yang panjang, berawal dari masa Kerajaan Sriwijaya. Menurut buku Seni Kriya Nusantara karya Deni Setiawan, songket sudah dikenal sejak masa kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi, ketika Palembang menjadi pusat perdagangan internasional di tepi Sungai Musi. Banyak peninggalan budaya berupa wastra (kain tradisional) ditemukan. Salah satunya adalah kain songket yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa jalur perdagangan di Selat Malaka. Hubungan dagang dengan India, China, dan Arab membawa pengaruh besar terhadap teknik dan motif songket. Dari China datang benang sutra, dari India benang emas dan perak. Perpaduan inilah lahir kain songket Palembang yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Melayu-Sumatera. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, songket digunakan sebagai simbol kebesaran dan status sosial. Para bangsawan dan keluarga kerajaan mengenakannya dalam upacara resmi. Beberapa mo...

avatar
Cindy