DEPIK belacan, makanan atau lauk khas Gayo yang dikenal sebagai warisan nenek moyang Urang Gayo berdiam di tepi danau Lut Tawar, Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Satu dari sekian banyak kreatifitas yang diwariskan pendahulu dengan mengolah ikan endemik penghuni danau Lut Tawar, Depik (Rasbora Tawarensis) sehingga lebih tahan lama sebagai lauk makanan pokok, nasi.
Depik ditangkap dengan berbagai cara seperti dengan doran atau jaring insang (gillnet), cangkul jaring angkat (lift net) atau yang ditangkap di Didisen yang dibangun dengan sejumlah peralatan seperti Segapa (sejenis bubu) yang dipasang aliran air yang masuk ke danau.
Dulu, populasi ikan Depik di danau kebanggaan masyarakat Gayo kabupaten Aceh Tengah sangat melimpah, terlebih saat musim Depik yang biasanya ditandai dengan cuaca yang sangat buruk, angin kencang, gelombang danau lebih tinggi dari biasanya dan juga terjadi hujan, tentu suhu udara sangat dingin.
Ikan Depik yang baru ditangkap diolah menjadi lauk dengan berbagai cara yang khas seperti Pengat dan Dedah yang langsung siap saji yang disantap dengan nasi. Ada juga dengan di goreng dan dipanggang.
Namun jika hasil tangkapan sangat berlimpah tentu membutuhkan proses agar lebih tahan lama dan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai jual ikan Depik biasa di Pekasam (proses peragian), dikeringkan dan ada juga yang diolah menjadi “belacan”.
Membuat Depik Belacan
Mengolah ikan Depik menjadi belacan, dijelaskan Nurhajaty (58), ibu rumah tangga warga Kemili Takengon yang mengaku saat ayahnya masih hidup sempat mempunyai Didisen dan ibunya kerap membuat belacan.
Pertama ikan Depik dikeringkan di bawah terik matahari (resepnya untuk 1 kaleng atau setara dengan 10 bambu ikan Depik). Lalu ditumbuk dengan lesung berbahan kayu, tapi jangan sampai jadi serbuk halus.
Disiapkan bumbu berupa Lengkuas sebanyak 5 kilogram, Kunyit seperempat kilogram dan garam seperempat kilogram atau secukupnya. bumbu ini dihaluskan dengan ditumbuk, juga jangan terlalu halus. Kemudian direbus hingga airnya mendidih.
Bumbu kemudian dikeluarkan dan dimasukkan wadah tertentu lalu diaduk dengan ikan Depik yang sudah ditumbuk, Aduk hingga merata bercampur antara Depik tumbuk dengan bumbunya.
Hasil adukan ini dimasukkan ke dalam Lenge yang merupakan wadah dari bambu bulat dan segera ditutup rapat. Pastikan adukan sudah dingin saat dimasukkan ke dalam Lenge. Setelah satu minggu di peram, Belacan Depik sudah bisa dinikmati dengan nasi dipanggang terlebih dahulu.
Belacan ini juga kerap dijadikan sambal oleh ibu rumah tangga di Gayo dengan bumbu sambal biasa, cabe, tomat, bawang dan lain-lain.
Aroma yang mengundang selera akan segera menyeruak saat belacan mulai tersentuh panas panggangan atau menyentuh minyak goreng panas.
ika belacan Depik ini dipasarkan, biasanya dikemas lagi dengan daun pisang namun saat ini ada juga dikemas dengan bahan moderen terbuat dari plastik.
Depik Belacan bisa didapatkan di pasar tradisional di Takengon, biasa dihargai Rp.10.000,- per ons dan yang dikemas dengan daun pisang ukurannya sebesar jempol kaki di bandrol Rp.1.000,- atau Rp.2.000,- per bungkus.
Depik belacan yang warna fisiknya berwarna hijau tua ini termasuk sebagai makan terfavorit bagi masyarakat Gayo dan selalu dirindukan oleh Urang Gayo diperantauan.
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...