Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menggelar tradisi Bedol Pusaka dari Pringgitan atau Rumah Dinas Bupati di lingkungan Alun-alun kabuplima kilometer.
"Bedol Pusaka ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap `suroan` atau peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram," ujar Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni kepada wartawan usai memimpin prosesi Bedol Pusaka, yang berlangsung hingga Senin dini hari.
Dia menjelaskan terdapat tiga benda pusaka yang diyakini telah ratusan tahun tersimpan di Pringgitan yang saat ini ditempatinya sejak terpilih menjabat Bupati Ponorogo di tahun 2016.
Masing-masing adalah pusaka payung "songsong tunggul nogo", tombak "tunggul wulung" dan tambang atau sabuk "cinde puspito".
Konon ketiga pusaka tersebut dipergunakan oleh pendahulunya untuk mempertahankan wilayah Ponorogo dari serangan penjajah.
Tiga pusaka ini dibedol ke Pasar Pon, yang dikenal sebagai kawasan kota lama Ponorogo. "Menurut sejarahnya, pemerintahan Ponorogo sebelum dipindahkan ke Pringgitaan yang sekarang saya tempati ini, dulu berpusat di Pasar Pon," katanya.
Ipong merujuk pada catatan sejarah yang menyebut Ibu Kota Kabupaten Ponorogo di tahun 1496 berpusat di Pasar Pon, sebelum kemudian dipindahkan ke Pringgitan di tahun 1738.
"Jejak keratonnya sekarang memang sudah tidak terlihat lagi di Pasar Pon. Tapi ada artefak bangunan masjid tua dan sebuah makam, yang menguatkan bahwa Pasar Pon adalah kota lama yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo," ujarnya.
Ipong menandaskan tradisi Bedol Pusaka ini hanyalah simbolis yang setiap tahun digelar sebagai salah satu kegiatan untuk memeriahkan peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram.
"Ya, untuk napak tilas yang menggambarkan sejarah perjalanan Kabupaten Ponorogo. Maka Bedol Pusaka digelar dengan arak-arakan atau kirab dengan rute dari Pringgitan ke Pasar Pon pada malam higga dini hari ini. Lalu pada siang harinya nanti dikirab lagi untuk dikembalikan ke Pringgitan," katanya.
Ipong menyebut tradisi bedol pusaka setidaknya mampu menarik perhatian ratusan ribu masyarakat setempat maupun wisatawan yang memadati rute kirab dari Pringgitan menuju Pasar Pon.
"Puncaknya tepat pada 1 Muharram nanti, yaitu hari Selasa, 11 September, akan digelar tradisi Grebeg Sura di Telaga Ngebel, yang biasanya juga disaksikan oleh banyak wisatawan," ucapnya. (Antara/Slamet Agus Sudarmojo)
sumber: https://www.liputan6.com/health/read/3640610/bedol-pusaka-warnai-peringatan-1-suro-di-ponorogo
#SBJ
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara