Makanan Minuman
Makanan Minuman
kuliner Jawa Timur Madura
Bebek Ungkep - Madura - Jawa Timur
- 13 Maret 2018

Bahan-bahan utama bebek goreng:

  • 1 ekor bebek yang sudah dicuci bersih kemudian potong menjadi 6 sampai 8 bagian
  • 3 sendok makan cuka
  • 1/4 kilogram minyak goreng

 

Bahan untuk merebus:

  • 2 gelas air matang (400 mililiter)
  • 2 batang serai, potong menjadi dua bagian dan memarkan
  • 8 lembar daun jeruk

 

Bumbu yang dihaluskan:

  • 4 siung bawang putih
  • 10 butir bawang merah
  • 1/2 sendok teh ketumbar yang di sangrai
  • 1/2 sendok teh merica yang di sangrai 1/2 sendok teh cabe giling
  • 1 ruas jari jahe
  • 1 ruas jari kunyit
  • 6 lembar daun jeruk
  • 1 ruas jari lengkuas yang masih muda
  • 4 cm sereh (bagian pangkalnya)
  • 6 butir kemiri
  • 1 sendok teh garam

 

Cara pengolahan:

  • Siapkan wadah seperti panci atau baskom kemudian masukkan potongan daging bebek yang sudah dibersihkan. Siram dengan cuka dan remas-remas sebentar kemudian diamkan selama 1/2 jam.
  • Setelah aroma amis daging bebek telah hilang kemudian cuci hingga bersih dengan air.
  • Masukkan kembali daging bebek tersebut kedalam wadah kemudian masukkan bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan dan diamkan kembali selama kurang lebih 1 jam.
  • Siapkan panci uap bertekanan tinggi (presto/steam) kemudian tuangkan air, serai dan daun jeruk kemudian rebus (ungkep) daging bebek dengan api sedang selama kurang lebih 30 menit, angkat kemudian tiriskan dan pisahkan bumbunya.
  • Panaskan wajan diatas kompor dan tuang minyak goreng perlahan. Setelah minyak telah panas kemudian goreng daging bebek satu-persatu hingga matang (kuning kecoklatan). Angkat dan tempatkan dalam piring.
  • Siapkan wajan ditempat terpisah kemudian goreng bumbu endapan hasil rebusan dengan sedikit minyak untuk siraman daging bebek. Tambahkan sedikit garam bila perlu.
  • Setelah matang, bumbu goreng tersebut bisa menjadi cocolan ataupun sebagai bumbu siram yang pedas namun gurih.
  • Tambahkan potongan mentimun, daun kemangi dan tomat sebagai pelengkap dan siram daging bebek dengan bumbu goreng.
  • Sajikan.

Tips mengolah bebek goreng:

Pilihlah bebek jantan karena bebek jantan lebih sedikit kandungan lemaknya. Buang bagian ekor serta isi perut (jeroan) yang terdapat didalamnya agar daging tidak menjadi amis saat diolah

Untuk mendapatkan tekstur atau tingkat kekenyalan daging bebek yang sesuai selera, maka tergantung dari seberapa lama saat merebusnya. Jika Anda tidak memiliki panci presto, dapat juga menggunakan panci biasa, tetapi proses perebusannya akan menjadi lebih lama.

https://bebekungkepasli.wordpress.com/2016/10/26/bebek-ungkep-madura/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker