Siapa yang merasa memiliki “anak Sukerto?” Anak Sukerto dapat dikatakan anak yang memiliki keistimewaan. Tetapi keistimewaan itu dapat mendatangkan mara bahaya bagi anak yang bersangkutan. Namun semua itu sekedar merupakan kepercayaan masyarakat masa lalu secara turun-temurun. Sampai sekarang masih terdapat kepercayaan adanya “anak Sukerto”. Termasuk mereka yang tinggal di kota dan berkehidupan disuasana modern.
“Anak Sukerto” yaitu anak (orang) yang karena kelahirannya atau kedudukannya dalam lingkungan keluarga maupun kejadian dalam hidupnya menjadikan termasuk salah satu yang diperbolehkan menjadi mangsa Batara Kala.
“Sukerto” dari kata “suker” artinyo kotor. “Anak Sukerto” berarti anak yang mempunyai halangan dalam hidupnya.
Mengapa Batara Kala senang memangsa atau makan manusia? Kono singkat kisahnya, di Kahyangan kedatangan Prabu Damarjati melamar Dewi Uma isteri Batara Guru. Lamaran ditolak dan Prabu Damarjati ditanngkap serta dibuang ke Pesisir Kulon. Prabu Darmajati tidak mati, malah berganti rupa puteri cantik bernama Dewi Tenana bertapa di pertapaan Selogumilang. Tujuan tapanya adalah mencari kekuatan untuk membalas dendam Batara Guru. Terjadilah gara-gara di arcapada. Para dewa berusaha menggagalkan tapa Dewi Tenana tetapi sia-sia.
Kegagalan itu disampaikan kepada Batara Guru. Akhirnya Batara Guru diikuti Batara Narada berangkat ke pertapaan Selogumilang untuk menggelandang Dewi Tenana yang membahayakan Marcapada. Dewi Tenana telah tahu, maka perintah kepada Emban Lodayo untuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyongsong kedatangan tamu agung itu.
Dengan suasana pertapaan yang terhias indah, gaya yang lemah gemulai, kata-kata yang masin diterimalah tamu Agung dari Suralaya itu. Niat semula keberangkatan Batara Guru dari kahyangan yang telah penuh kemarahan untuk membinasakan Dewi Tenana menjadi tak berdaya karena sanjungan yang lemah lembut itu. Dalam pandangan Batara Guru, Dewi Tenana adalah cantik menawan dan membangkitkan nafsu berahinya. Dewi Tenana menolak ketika diminta sebagai isteri Batara Guru. Berkobarlah asmara Batara Guru dan terus mendesak sang Dewi. Terjadilah kejar mengejar sampai di tepi samudera. Karena Batara Guru diamuk asmara yang memuncak, maka keluarah kama dan jatuh di samudera. Seketika itu air samudera beruncang dan bergelombang besar.
Dewi Tenana yang terus dikejar, akhirnya timbul marahnya dan mengutuk Batara Guru: “Batara Guru, engkau adalah Dewa Agung, mengapa tidak mampu menahan nafsu dan mengendalikan diri. Watak dan laku perbuatan semacam itu adalah watak raksasa”. Seketika itu pula Batara Guru berwajah raksasa. Ia bingung dan merasa malu jika kembali ke Suralaya. Akhirnya Batara Guru menyesal dan minta agar Dewi Tenana bersedia mengembalikan wajahnya seperti semula. Dewi Tenana menyanggupi asal tidak mengejar lagi. Setelah wajah Batara Guru pulih seperti sedia kala, kembalilah is ke Suralaya tanpa membawa hasil.
Sembilan bulan dari kejadian itu, timbullah angin topan dan deru samudera yang menghempaskan seorang bayi ke pantai. Atas kehendak jagad, bayi itu segera dapat berjalan dan berbicara. Datanglah bayi itu ke pertapaan Selogumilang menemui Dewi Tenana yang sedang membicarakan suara gemuruh dari samudera bersama Emban Lodaya. Atas pertanyaan Dewi Tenana, Sang Bayi mengaku dari tengah samudera dan menanyakan orang tuanya. Dewi Tenana ingat peristiwa masa lalu dan mengaku sang Bagi sebagai puteranya serta menunjukkan bahwa Batara Guru adalah ayahnya. Kemudian Sang Bayi yang semakin besar itu diperintahkan menghadap Batara Guru serta Emban Lodaya menyertainya.
Kedatangan Sang Bayi yang telah perjaka dan Emban Lodaya di Kahyangan Suralaya dihadang oleh bala tentara Dewa. Terjadilah perang dan tentara Dewa dapat dikalahkan. Sang perjaka dihadapkan pada Batara Guru. Setelah mendengar ceritera dari Sang Bayi yang diperkuat keterangan Emban Lodaya, maka Batara Guru tidak dapat mengingkari perbuatan masa lalunya. Kemudian Batara Guru mengakui sang Perjaka sebagai anaknya dan diberi nama Jajasengkala. Emban Lodaya ditugasi untuk mengasuhnya.
Suatu hari Emban Lodaya memasak bakal santapan Jajasengkala. Pada saat meracik sayuran, jari Emban Lodaya teriris dan darah mengucur bersampur masakannya. Setelah dihidangkan dan dilahap oleh Jajasengkala, ia merasakan kelezatan makanan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka ia meminta agar selalu dihidangkan makanan dengan menu semacam itu.
Hari-hari selanjutnya Jajasengkala selalu marah karena menyantap hidangan tidak sesuai dengan cita rasa yang diinginkan. Kemarahan yang memuncak menimpa Emban Lodaya. Akhirnya Emban Lodaya berterus terang tentang terjadinya masakan yang lezat itu. Mendengar keterangan Emban Lodaya itu, Jajasengkala selalu minta dibuatkan masakan dengan bumbu darah manusia. Apabila perlu bagian badan Emban Lodaya dapat dijadikan bumbu masakannya. Permintaan itu sengan mengerikan perasaan Emban Lodaya dan amat ketakutan.
Kemudian Emban Lodaya melarikan diri dan dikejar oleh Jajasengkala untuk menghadap Batara Guru. Batara Guru merasa heran, mengapa Emban Lodaya dan Jajasengkala berkejaran dan menghadapnya. Setelah mendapat penjelasan dari keduanya, Batara Guru memerintahkan Jajasengkala untuk pergi ke pertapaan Selamangempang menemui Batara Kala. Ia diberi kuasa penuh untuk minta setengah jatah makanan Batara Kala. Apabila permintaan itu ditolak, maka Jajasengkala diijinkan untuk membunuh Batara Kala dan makan daging jatung Batara Kala.
Berangkatlah Jajasengkala ke Selamangempang. Sesampai di Selamangempang semua maksudnya diutarakan kepada Batara Kala. Permintaan itu ditolak dan terjadilah perang tanding yang dasyah karena keduanya berujud raksasa yang besar. Jajasengkala lebih muda dan Batara Kala dapat dibunuh. Jantung Batara Kala dimakan dan sebagian dibawa ke Kahyangan sebagai bukti keberhasilan membunuh Batara Kala. Sesampainya Jajasengkala di Kahyangan, para dewa bergembira ria karena manusia serakah itu telah musnah. Kegembiraan itu terhenti mendengar tuntutan Jajasengkala agar diberi kedudukan dan segala fasilitas sama dengan dewa. Batara Guru dapat menerima tuntutan itu dan memberinya pakaian dewa. Alangkah terkejutnya para dewa, setelah Jajasengkala mengenakan pakaian dewa wajahnya persis seperti Batara Kala. Maka Batara Guru memberinya nama Batara Kala.
Batara kala masih punya tuntutan lain yaitu agar diberi izin makan manusia karena telah merasakan kelezatannya. Apabila tidak diizinkan, maka ia akan mencari cendiri di Arcapada. Setelah berunding dengan para dewa, akhirnya Batara Guru hanya memperbolehkan Batara Kala memakan manusia yang bepergian atau orang ke sungai memakai kerudung ditengah hari atau matahari di atas ubun-ubun. Batara Kala tidak puas, karena merasa belum cukup atau sulit mencari manusia semacam itu. Batara Guru mengkhawatirkan manusia di dunia akan musnah dimangsa Batara Kala. Atas hasil musyawarah dengan para dewa, maka Batara Guru mengijinkan Batara Kala makan “anak sukerto”. Para dewa masih khawatir banyak manusia menjadi makanan Batara Kala, akhirnya Batara Guru memberi syarat. Bagi orang yang bepergian di siang hari dan matahari sudah condong ke barat meskipun baru sedikit, maka tidak boleh dimakan. Hal itu mengisyaratkan pada orang agar berhenti sejenak dari perjalanan menunggu matahari condong ke barat. Bagi “anak sukerto” yang sudah “diruwat” tidak boleh dimakan. Hal itu mengisyaratkan agar orang yang mempunyai “anak sukerto” agar segera “diruwat”. Anak yang termasuk “Sukerto” antara lain:
Selain anak seperti itu masih terdapat anak atau orang yang menjadi jatah Batara Kala, misalnya anak jatuh dari gendongan, orang bepergian jauh sendirian atau “bathang lelaku” (mayat berjalan) dan lain-lain. Kelompok jenis jatah makan Batara Kala terakhir ini disebabkan kelalaian orang yang bersangkutan. Agar terhindar dari incaran Batara Kala, kelompok orang lalai tersebut cukup berhati-hati agar kejadian itu tidak terulang lagi. Jadi mereka tidak perlu “diruwat”, seperti kelompok pertama.
Referensi:
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...