Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Sejarah Sumatera Barat Agam
Basa Ampek (Sejarah Ampek Angkek)

Tak lengkap rasanya bila seorang penduduk asli disuatu daerah tidak mengenal asal usul daerahnya tersebut. Sehingga ini yang menjadi pemicu saya mencari tahu apa sih sebenarnya asal usul daerah 'Ampek Angkek'

Adapun sumber referensi sejarah Ampek Angkek ini saya dapati melalui tautan di website Adinda Sampurna(beliau mengambil referensi setelah menemukan buku diktat sejarah lapuk yang disusun oleh H. Azwar Dt. Mangiang


Check this Out!

Berawal dari nagari lamo Pariangan di wilayah Tanah Datar sang datuk Suri Dirajo melihat wilayahnya semakin berkembang dan makmur dipanggilah empat orang pemuka masyarakat di Pariangan tersebut yaitu antaranya ; Si AgamSi BasaSi Api dan Si Endah dengan maksud menyuruh ke empat orang pemuka nagari ini untuk mencari dan membuka daerah baru agar dapat pula dicetak pesawahan dan perkebunan untuk menambah kemakmuran.

Berangkatlah ke 4 orang dengan masing-masing  membentuk kelompok karena mereka sebagai pimpinannya maka di gelarilah sebagai Rajo, jadi masing berjuluk dan bergelar Rajo Agam, Rajo Api, Rajo Basa, dan Rajo Endah. Mereka pergi dengan mendaki puncak gunung Merapi untuk melihat situasi Utara gunung Marapi maka terlihatlah suatu kawasan yang memantulkan cahaya yaitu sinar yang memantul pada permukaan air, akhirnya dipastikan melihat itu dan tampaklah bahwa sumber pemantul cahaya itu adalah sebuah luhak atau kolam yang berada di wilayah yang subur, datar dan sangat cocok untuk dijadikan tempat kenagarian.

Maka kolam yang memantulkan itu dinamai oleh mereka si Camin Kapanehan dan keempat rombongan itu setelah berkumpul di dekat kolam memutuskan untuk mulai membagi arah masing-masing kelompok untuk mencari wilayah lahan dan pemukiman disekitarnya, namun sebelumnya karena dari ke empat kelompok itu pemimpin utamanya adalah Rajo Agam, maka sebagai penghargaan kepadanya Kolam dan tanah sekitar Camin Kapanehan sepakat menjadi hak si Rajo Agam.

Akhirnya setelah sepakat mereka menyebar dari kolam itu, Rajo Api membawa kelompoknya ke arah timur dan membuat Biara dan candi disana maka daerahnya dinamakan Biaro, Rajo Endah membawa kelompoknya ke arah selatan dan membuat Balai dari batang Kayu Gurah maka daerahnya bernama Balai Gurah, lalu Rajo Basa membawa kelompoknya ke suatu daerah yang genting yang diapit oleh sungai maka daerahnya Gantiang sebelum berubah menjadi Panampuang. Sedangkan Rajo Agam sendiri yang telah mendapat hak atas tanah sekitar kolam si Camin Kapanehan tetap membawa kelompoknya dan membuka lahan baru di wilyah yang berlembah maka daerahnya disebut Lambah.

Pada mulanya Ampek Angkek memakai adat Koto Piliang, tetapi tidak mengakui langgam nan tujuah seperti Tanah Datar, yang diakuinya hanya Raja Pagaruyung sebagai Rajo Alam, maka sebagai pembantu Raja Alam dibentuklah BASA AMPEK yang terdiri dari :
 

  • PAMUNCAK di Balai Gurah
  • SULUEH BENDANG di Biaro
  • ALUNG BUNIAN di Lambah
  • AMBAN PURUEK di Panampuang dulunya Gantiang.



Kembali mengenai Kolam Si Camin Kapanehan dan tanah sekitarnya adalah milik Rajo Agam maka disebutlah seluruh daerah-daerah disekitarnya yang dibuka oleh empat pemuka Nagari tersebut di atas sebagai Luhak atau daerah Agam, disinilah sejarah asal muasal daerah Ampek Angkek dan luhak Agam bermula. Ampek Angkek berarti pada empat pemuka yg diangkat dan Agam itu sendiri berarti nama tokoh utama dalam sejarah ini, saya jadi teringat arti sebuah nama agam itu sendiri adalah anak laki - laki kalau di Aceh seorang laki laki bernama agam sangat lumrah dijumpai. Adapun perkiraan tahunnya peristiwa dibukanya wilayah Ampek _Angket tertulis tahun 1295 Masehi.

 

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu