Bila bosan dengan olahan yang itu-itu saja, maka Bakso Bakar bisa menjadi alternatif mengusir kejenuhan rasa. Apalagi dibuat khas Malang yang menambahkan kuah dan balungan atau lutut sapi, sajian Bakso Bakar ini bisa dijadikan camilan atau makanan berat.
Bahan Kuah: Tulang lutut sapi secukupnya ½ kg tetelan beserta lemak sapi, potong-potong sesuai selera 2 sdm minyak goreng Air secukupnya
Bumbu Halus: 10 siung bawang merah 15 siung bawang putih 1 sdt merica ¼ sdt pala bubuk Garam secukupnya
Bahan Bakso Bakar: ½ kg daging sapi giling 1 ons tepung kanji 1 butir telur Tusuk sate secukupnya
Bumbu Halus: ½ sdt kaldu sapi bubuk ½ sdm pala bubuk 1 sdt merica bubuk 1 sdm garam 3 siung bawang putih
Bahan Olesan: 3 sdm margarin cair 3 sdm kecap manis Cara Membuat: 1. Setelah mencuci bersih tulang sapi, silahkan merebusnya menggunakan sekitar 5 liter air. Rebus sampai airnya menyusut dan tersisa 3 liter 2. Selanjutnya, campur bumbu halus dan menumisnya hingga harum. Masukkan bumbu tersebut ke dalam rebusan tulang sapi tadi. 3. Tunggu beberapa saat sampai rebusan tulang sapi yang dibuat mendidih dan siap digunakan untuk langkah berikutnya. 4. Angkat dan sajikan di mangkuk saji lalu sisihkan dulu untuk membuat bakso bakarnya. 5. Campurkan daging giling bersama bumbu halus dan juga telur. Kemudian haluskan menggunakan food processor. 6. Masukkan tepung kanji sedikit demi sedikit sembari diaduk rata kemudian tuangkan adonan tersebut dalam baskom. 7. Ambil satu sendok teh adonan, kemudian bulatkan. Lakukan langkah ini sampai adonan habis. 8. Setelah itu masukkan bulatan-bulatan bakso ke dalam air yang mendidih. Tunggu beberapa saat sampai terapung. Angkat lalu tiriskan. 9. Tusuk bakso tersebut menggunakan tusuk sate sampai bakso habis lalu bakar di atas bara api sambil diolesi bahan olesan juga dibolak-balik agar matang merata serta berubah warna. Angkat. 10. Sajikan bakso bakar yang sudah dibuat bersama dengan sambal botol dan kuahnya.
Sumber: http://www.masakandapurku.com/2015/11/resep-membuat-bakso-bakar-khas-malang.html?m=1
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara