
Kalau berbicara tentang makanan pasti kawan Sobat Budaya lagi membayangkan betapa nikmatnnya makanannya dan segera ingin mencicipi makanan tersebut apalagi makanannya khas nusantara. Ada yang tau kawan Sobat Budaya, kenapa sih makanan di Indonesia sangat enak sekali dan banyak yang menyukainya dari kalangan pribumi maupun warga asing? tidak usah diragukan lagi, itu karena Indonesia memiliki kaya akan rempah-rempah, kekayaan alam yang banyak dan besar mulai dari pemandangan alam sebagai objek wisata, tanah yang subur, hingga hasil panen yang melimpah.
Disini aku mau memperkenalkan makanan khas Indonesia dari Pulau Jawa yang khususnya dari D.I.Y Yogyakarta yaitu Bakmi Godog. Pasti kawan Sobat Budaya udah tau kan atau belum pernah? hahaha kalau belum, monggo aku akan memperkenalkannya (eitss... mau kenalin ke siapa? ini lagi ta'arufan?) yang pasti aku kenalin ke kawan Sobat Budaya, ya siapa tau aja jodohnya kawan Sobat Budaya hehehe. Udah yuk kita mulai..
Bakmi Jawa sering disebut juga Mie Jawa adalah olahan Bakmi Rebus (Jawa : Bakmi Godhog) yang dimasak dengan racikan bumbu-bumbu khas Masakan Jawa. Disebut Bakmi Godhog karena kebanyakan bakmi Jawa diolah dengan di rebus atau dengan kuah, di luar negeri khususnya di Malaysia dan Singapura dikenal dengan sebutan Mie rebus. Namun sebenarnya ada variasi mi goreng dari bakmi Jawa. Bakmi Jawa atau Bakmi Godhog diolah dengan dimasak di atas tungku tanah liat atau anglo dengan bahan bakar api arang.
Keistimewaannya adalah Juru Masak tidak pernah memasak banyak pesanan dalam satu wadah, akan tetapi setiap pesanan dimasak dengan racikan bumbu satu persatu. Satu kali masak untuk satu porsi yang dimasak dalam wajan kecil. Ciri khas yang lainnya adalah tambahan daging ayam kampung suwir serta telur bebek ke dalam Bakmi Godhog. Satu lagi yang paling penting pembuat bakmi atau penjual bakmi tidak pernah memberitahukan resepnya, resep bakmi Jawa adalah resep rahasia. Untuk itu semoga resep ini sedikit membantu anda dalam membuat sendiri bakmi di rumah dan semoga citarasa yang tercipta sesuai dengan selera anda.
Bahan-bahan untuk Membuat Bakmi Jawa Godhog :
Bahan-bahan yang dihaluskan :
Bahan-bahan pelengkap untuk penyajian :
Cara Membuat Bakmi Jawa Godhog Asli Gunungkidul Mak Nyuzz :
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara