Bakasang adalah sejenis cairan kental dapat juga disebut 'bumbu' untuk sambal dan gohu (sejenis asinan pepaya atau ketimun khas Manado). Bakasang ini adalah hasil fermentasi dari telur ikan atau ikan kecil sejenis teri (sering disebut ikan putih oleh masyarakat pesisir pantai) ataupun udang.
Memang, bahan dasar bakasang yang lazim adalah telur ikan. Baiklah saya membahas bakasang yang terbuat dari telur ikan dulu ya. Pembuatan bakasang secara garis besarnya adalah : Telur ikan dicuci bersih, dicampurkan garam (mungkin juga bumbu lain) dimasukkan dalam botol dan dijemur pada terik matahari. Lama penjemuran bervariasi, tergantung seberapa besar terik mataharinya. Bisa saja jika cuaca panas terik, 3 haripun proses penjemurannya dinyatakan sudah selesai. Tetapi dalam kesempatan lain juga bisa memakan waktu sekitar 4- 5 hari. Proses penjemuran dianggap selesai jika bakasang ini sudah berbentuk cairan yang berwarna agak kekuningan (jika bahan dasarnya telur ikan).
Setelah proses fermentasi selesai, bakasang ini kemudian dimasak hingga mendidih dan (mungkin) ditambahkan beberapa bumbu. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahan dasar bakasang ini tidak hanya telur ikan. Ada juga ikan kecil sejenis teri yang dapat diproses menjadi bakasang. Masyarakat pesisir pantai menyebutnya dengan "ikan putih".
Proses pembuatannya sama persis seperti telur ikan. Hanya saja hasil jadinya, untuk bakasang ikan putih berwarna abu abu.. Selain dipesisir pantai, di daerah pegunungan (daerah Kakas) juga ada bakasang khasnya. Terbuat dari udang kecil hasil dari danau Tondano. Dalam bahasa daerah lebih dikenal dengan nama wiko' osem (wiko dalam bahasa Kakas berarti udang kecil). Wiko osem ini punya rasa yang sangat khas.. walaupun baunya lebih menyengat dibandingan dengan bakasang telur ikan ataupun bakasang ikan putih. Tetapi menurut saya, wiko osem lebih enak rasanya
Sayangnya wiko osem ini sudah hampir punah. Agak susah mencarinya walaupun ke daerah Kakas sekalipun. Kalau toh ada itupun harus dipesan dengan harga yang cukup mahal. Ciri khas wiko osem ini berwarna orange muda Lepas dari semua bahan dasarnya. Cara pembuatannya juga sama. walaupun dalam penampilan warna yang berbeda. Tapi satu hal yang menjadi persamaan dari semua bakasang ini adalah : bau .... Jangan kaget jika tutup botol bakasang dibuka, akan keluar bau yang menyengat.. Bagi yang tidak biasa mungkin nyaris pingsan jika nyium baunya. Tetapi, jangan terkecoh dari baunya. Simak dulu rasanya jika sudah bercampur dengan sambal.
Bakasang yang sudah bercampur sambal, oleh masyarakat Manado disebut dengan Dabu dabu (sambal) bakasang. Dabu dabu bakasang ini merupakan 'sobat sejati' pisang goreng, jagung rebus, ubi goreng, bubur Manado (Tinutuan) bahkan babi putarpun "bersahabat erat' dengan dabu dabu bakasang ini.
Demikian halnya seperti yang dituturkan pada awal tulisan, bakasang ini juga 'berjodoh' erat dengan gohu (Sejenis asinan khas Manado). Dan jika gohu sudah dicampur dengan bakasang, jadilah gohu bakasang.. Bakasang ini sangat mudah ditemukan di pasaran. Banyak di jual di supermarket ataupun di toko toko souvenir khas Manado. Tapi mungkin agak sulit untuk membawa bakasang ini dalam pesawat terbang. Biasanya langsung kena 'segel' karena botolnya mengandung gas.
Sumber:
https://aneka-resep-masakan-online.blogspot.co.id/2015/04/bakasang-manado.html
<!DOCTYPE html> Hacked By Raxor404 Santiago 404 Team Website Locked By Raxor404 PLEASE PAY THE RANSOM AT indonesiacyberteamid@gmail.com
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la`` <pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><p></code></pre></code></pre></li> </ol> </code></pre></li> </ol> <p> <p> <p> </p></li> </ol> Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao"...