Baju Kombo merupakan pakaian kebesaran kaum wanita Buton yang terbuat bahan dasar kain satin dengan warna dasar putih yang dihiasi dengan manik-manik, benang emas atau perak serta berbagai ragam hiasan yang terbuat dari emas, perak maupun kuningan. Pakaian ini terdiri atas baju dengan bawahan sarung yang disebut Bia Ogena (sarung besar). Pemilihan warna putih pada baju kombo diunakan sebagai lambang kesucian, kepolosan wanita Buton, serta harapan-harapan atas kebaikan, kesuburan, dan kesejahteraan.
Baju kombo adalah pakaian kebesaran kaum wanita buton. Bahan dasar baju adalah kain satin dengan warna dasar putih, penuh dihiasi dengan manik-manik, benang-benang berwarna yang biasanya terdiri dari benang emas atau benang perak serta berbagai ragam hiasan yang terbuat dari emas, perak maupun kuningan.
Pakaian ini terdiri dari satu pasang, bagian atasan adalah baju dengan bawahan sarung yang disebut bia ogena (sarung besar). Bia ogena adalah sarung yang terdiri dari gabungan beberapa macam warna polos seperti merah, hitam, hijau, kuning, biru dan putih dan dijahit secara bertingkat-tingkat.
Pada permukaan baju dijahitkan rangkaian manik-manik dengan formasi belah ketupat. Pada setiap petak-petak belah ketupat terdapat hiasan dari perak atau kuningan dengan motif tawana kapa (daun kapas) dan pada ujung daun kapas tersebut dijahitkan sekuntum bunga yang berdiri tegak.
Berikut ini adalah kutipan hasil wawancara mengenai makna yang terdapat pada baju kombo:
Makna yang terdapat pada baju kombo adalah sebagai berikut :
1. Dasar warna baju adalah putih yang melambangkan kesucian, kepolosan wanita buton
2. Bunga-bunga yang tumbuh tegak pada ujung tawana kapa adalah melambangkan harapan-harapan atas kebaikan, kesuburan, kesejahteraan, kelapangan dan hal-hal yang memiliki pengertian yang sama pada saat ia menjadi mempelai wanita dikemudian hari untuk membangun satu keluarga yang madani
3. Perhiasan yang digunakan khususnya gelang tangan sebagai pertanda bahwa wanita buton selalu taat dan patuh pada ikatan sistem peradatan dan ajaran agama yang dilingkarkan pada pergelangan tangannya
4. Punto,berwarna dasar hitam yang dimaksudkan untuk melindungi rembesan darah haid wanita jika sedang datang bulan sehingga dapat tersamarkan
5. Bia ogena atau sarung yang dijahit secara bertingkat-tingkat adalah menunjukkan alam kejadian manusia dan jagad raya.
Selanjutnya warna-warna tersebut bagi masyarakat buton memiliki makna. Sebagai contoh warna biru bagi masyarakat buton adalah lambang ketaatan dan kepatuhannya terhadap berbagai hal utamanya hukum adat dan agama yang harus selalu dikuti dan dijaga secara terus menerus.
Baju kombo syarat akan makna. Warna dasar baju adalah warna putih yang melambangkan kesucian, kedamaian dan sejenisnya. Pada permukaan baju dijahitkan manik-manik (tawana kapa) yang beraneka rupa, dimana pada bagian ujung tawana kapa dijahitkan pula masing-masing sebuah hiasan bunga-bunga yang disebut sebagai bunga rongo. Bunga inilah yang kemudian melambang keinginan-keinginan atau harapan-harapan wanita buton untuk kehidupan masa depannya dalam upaya membentuk suatu keluarga.
Gelang yang berjumlah masing-masing empat buah pada tangan kanan dan kiri merupakan arti dari bahwa wanita buton dalam semua aspek kehidupannya telah diikat oleh adanya hukum adat dan agama yang harus selalu menjadi sandaran dalam berkehidupan dengan lingkungannya.
Bia ogena yang terdiri dari beberapa warna yang dijahit menjadi sebuah sarung merupakan lambang proses kejadian alam dan manusia. Sesuai dengan kepercayaan agama masyarakat buton yang dijahit secara bersusun, pertama adalah warna hitam. Warna ini khususnya pada punto atau sarung hias yang berfungsi untuk mencegah merembesnya darah haid wanita pada saat datang bulan sehingga tidak terlalu nampak. Selanjutnya warna kuning. Warna kuning ini dimaksudkan sama, yaitu apabila darah telah merembes dari punto maka darah tadi masih dapat pula disamarkan oleh warna kuning. Susunan kain ini sampai kebawah akan berfungsi sama dengan warna kuning dan hitam”.
Baju kombo pada prinsipnya mengandung arti adanya harapan-harapan kebaikan atas segala kebaikan dalam berkehidupan, disamping itu juga baju ini mempunyai makna yaitu warna dasar baju yang putih merupakan lambang kesucian wanita buton untuk selalu dijaga. Sedang kain berwarna yang dijahit secara bersusun disebut sebagai lonjo. Lonjo dijahit secara bersusun bukan tanpa maksud tetapi dikandung maksud apabila rembesan darah haid tersebut telah menembus punto, maka selanjutnya darah tersebut dapat pula tersamarkan oleh warna hijau atau kuning sampai pada bagian bawah susunan kain yang berwarna merah. Lonjo juga berarti susun atau tata. Lonjoini diatur tiga susun warna yang menandakan bahwa di buton terdapat 3 golongan masyarakat yaitu kaomu, walaka dan papara.
Dari sudut pandang islam buton, lonjo bermakna hubungan yang harus dijalani oleh manusia yaitu:
(1) hubungan manusia dengan tuhan/hablum minallah
(2) hubungan antar sesama manusia/hablum minannas,
(3) hubungan manusia dengan alam.mengandung dua makna yaitu makna lahir dan makna batin. Makna lahir adalah bahwa warna-warna yang digunakan tersebut digunakan sebagai pencegah rembesan darah haid wanita agar tidak tampak pada saat wanita yang bersangkutan berada di keramaian, atau juga berfungsi sebagai sarung kebesaran wanita buton itu sendiri. Makna batin yaitu adanya kaitan antara pemahaman atas pengertian warna terhadap proses kejadian alam dan manusia begitu juga dengan kepercayaan beragama masyarakat buton dulu maupun sekarang.
Sumber:
1] https://fitinline.com/article/read/7-ragam-pakaian-adat-buton/
2] http://wolio-molagi.blogspot.co.id/2012/11/makna-pakaian-adat-tradisional-buton.html
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...