Bahasa Sunda adalah bahasa asli daerah Jawa Barat. Selain bahasanya yang menjunjung sopan santun, ada banyak sekali kosakata unik dalam Bahasa Sunda. Selain kata atuh, teh, mah, da yang sering disisipkan dalam perkataan orang sunda, adapula beberapa kata yang sering diucapkan khususnya oleh remaja Sunda. Namun, kata-kata ini biasanya hanya diucapkan oleh sesama remaja Sunda karena jika diucapkan kepada orang yang lebih tua akan dianggap kurang sopan. Beberapa kata tersebut diantaranya:
Lur. Lur berasal dari kata dulur yang artinya saudara. Contohnya sebagai berikut.
"Kamana lur?" (Kemana saudaraku?)
"Bade ka hareup sakedap." (Mau ke deoan sebentar)
Edas. Edas berasal dari kata edan atau yang artinya keren.
Jangar. Jangar artinya menyatakan keadaan yang memusingkan. Jangar hampir memiliki arti yang sama dengan kata lieur.
"Ulangan matematikana jangar nya." (Ulangan matematikanya pusing ya.)
Rujit. Rujit dalam bahasa Indonesia artinya sangat kotor atau menjijikan.
Haro. Haro berasal dari kata hoream yang artinya malas untuk melakukan suatu hal.
"Jadi indit teu?" (Jadi pergi tidak?)
"Henteu ah haro." (Tidak ah malas)
Meur. Meur berasal dari kata meur.eun yang artinya mungkin.
"Isuk kadieu jam sabaraha?" (Besok kesini jam berapa?)
"Beres ashar meur." (Setelah ashar mungkin)
Wae. Wae bisa diartikan dua hal, yaitu saja dan lagi.
"Didieu wae diukna." (Disini saja duduknya)
"Maneh deui maneh deui..." (Kamu lagi kamu lagi...)
Keukeuh. Kekeuh dalam bahasa Indonesia artinya ngotot atau keras kepala.
Wadul. Wadul artinya bohong, ada juga kata lain memiliki arti yang mirip yakni waduk dan caduk.
Urang dan maneh. Urang adalah kata panggilan untuk saya, sedangkan maneh adalah kamu. Kata-kata ini diucapkan sebagai penunjuk menyatakan diri sendiri ataupun lawan bicara. Adapun kata aing yang artinya sama seperti urang, tetapi konteksnya lebih kasar, biasanya diucapkan kepada teman yang sudah dekat.
Itulah beberapa kata yang sering diucapkan oleh remaja Sunda, masih ada kata-kata lain yang digunakan remaja sunda yang sifatnya halus hingga kasar. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memudahkan kawan-kawan yang berasal dari luar Jawa Barat untuk berinteraksi dengan orang Sunda dan sekitarnya.
#OSKMITB2018
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...