Bakso cilok (bacil) goreng telur kali ini yaitu cara membuat cilor tusuk yang merupakan resep cilok goreng enak dengan lapis telur. Cilok merupakan bagian dari kuliner nusantara yang sederhana dengan variasi cita rasa yang cukup diminati. Salah satu dari aneka jajanan yang sangat populer di Bandung ini memiliki bentuk pentol yang khas seperti bakso, hanya saja bahan dasar dan proses cara membuat lebih mudah dan sederhana.
Takaran yang pas antara campuran tepung aci atau tapioka dengan tepung terigu bisa menghasilkan pentol bakso cilok yang kenyal dan empuk, sehingga sangat enak dan lezat untuk dinikmati. Sedangkan variannya atau cara mengolahnya lebih lanjut bisa dengan digoreng atau dibakar untuk menghadirkan hidangan yang lebih spesial, bahkan bisa diandalkan apabila dijadikan sebagai ide untuk usaha jualan jajanan kuliner.
Pertama kali menemukan jajanan kuliner ini saat lewat Telkom University di terusan Buah batu Bandung, waktu itu hingga kini ramai sekali gerobak pedagang berlabelkan cilok atau bacil goreng telur yang disajikan dengan saus tomat atau sambal, apalagi waktu momentum bulan puasa. Saat ini sudah cukup banyak ditemui jajanan cilor tusuk yang didagangkan abang-abang gerobak keliling.
Bahan Cilor Tusuk Cilok Goreng Telur
Nah, jika beberapa waktu yang lalu juga pernah dibagikan resep cilok bakar dengan isi kornet dan sosis, maka pada kali ini giliran resep lainnya yaitu bacil atau bakso cilok goreng lapis telur. Untuk sausnya bisa disajikan saja dengan saus sambal, akan tetapi kali ini dibagikan juga saus yang enak berbahan lemon dengan cita rasa yang pedas kreasi dapur resepmasakankreatif.blogspot.com.Sumber: https://resepmasakankreatif.blogspot.com/2015/01/resep-cilok-goreng-telur-bacil-saus-lemon.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara