Makanan Minuman
Makanan Minuman
Kuliner Khas Sulawesi Utara Minahasa
Ayam Woku - Minahasa - Sulawesi Utara
- 20 November 2017

Merupakan olahan yang terbuat dari daging ayam yang dijadikan sebagai makanan khas yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Masakan ayam woku atau ayam woku belanga ini terkenal memiliki citarasa yang sangat lezat dan enak, jadi tidak salah kalau masakan ini banyak yang mencarinya. Selain menggunakan daging ayam sebagai bahan utama pembuatannya ternyata daging ikan, udang dan berbagai seafood bisa juga diolah dengan racikan bumbu woku ini, dan rasanya tak kalah menggugah selera. Bahan pengolahan woku khas manado ini tidak sulit juga untuk didapatkan, karena memang bumbu dan bahan-bahan pengolahanya terbilang umum diindonesia. Berikut ini merupakan resep cara pembuatan ayam woku khas masyarakat Sulawesi Utara, antara lain:

 

Bahan-bahan utama pembuatan ayam woku

 
  • 1 kg daging ayam, potong ukuran sedang lalu bersihkan
  • 1 lembar daun pandan, cuci dan potong kecil
  • 5 batang daun kemangi, cuci bersih
  • 4 lembar daun jeruk nipis
  • 1 batang serai, potong besar
  • 1 lembar daun kunyit muda, iris kecil
  • 2 buah tomat merah, potong kecil
  • 2 batang daun bawang, potong kecil-kecil
  • 1 sendok makan gula pasir putih
  • 1 sendok makan penyedap rasa
  • 1 sendok makan garam dapur
  • 3 sendok makan minyak sayur, untuk tumis
  • 350 ml air putih bersih

Bahan-bahan ayam woku yang dihaluskan

  • 5 buah cabe merah besar
  • 5 buah cabe merah keriting
  • 4 buah cabe rawit pedas
  • 3 cm kunyit, kupas bersihkan
  • 2 cm jahe, kupas dan bersihkan
  • 5 butir kemiri sangrai
  • 3 butir bawang merah, kupas dahulu
  • 3 siung bawang putih

Cara Membuat Ayam Woku Pedas Asli Manado

  1. Siapkan wajan, dan masukan minyak syur untuk tumisan, kemudian masukan semua bahan yang telah dihaluskan, aduk sesekali
  2. Tambakan kedalam tumisan, potongan daun jeruk, daun pandan, dan daun kunyit, aduk lagi dan tunggu sampai sedikit harum
  3. Sekarang tinggal masukan daging ayam yang telah dipotong dan dibersihkan tadi kedalam tumisan, aduk rata lagi hingga daging ayam terendam bumbu
  4. Bila sudah mulai berubah warna, silahkan anda masukan air kedalam tumisan tersebut, aduk lagi sesekali hingga semua bumbu larut
  5. Bila mulai mendidih tambahkan gula pasir, penyedap rasa, dan juga garam dapur, aduk lagi sampai tercampur
  6. Tambahkan irisan daun bawang, tomat, dan daun kemangi, tunggu sampai ayam matang dan empuk
  7. Bila sudah matang, angkat dan sajikan ayam woku dalam piring saji.

 

Sumber: resepdanmasakan.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker