Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat Sumatera Barat
Asal Usul Danau Singkarak
- 12 November 2018 - direvisi ke 4 oleh Bangindsoft pada 26 September 2024

Konon menurut legenda, Danau Singkarak awalnya adalah sebuah laut yang airnya terus menyusut hingga berubah menjadi danau. Air laut menyusut karena airnya mengalir menuju sebuah lubang besar. Aliran air tersebut kini membentuk menjadi Sungai Batang Ombilin yang mengalir sampai Riau. Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah Pak Buyung bersama istri dan anak semata wayangnya yang bernama Indra. Mereka tinggal di sebuah gubug kecil di pinggir laut. Sehari-hari Pak Buyung dan istrinya mencari nafkah dengan mengumpulkan hasil hutan dan menangkap ikan di laut untuk kemudian dijual di pasar.

Indra, anak Pak Buyung, adalah anak yang rajin dan tidak pernah mengeluh. Ia akan membantu kedua orang tuanya dengan senang hati tanpa diminta. Hanya satu kekurangan Indra, yaitu porsi makan Indra sangat banyak. Dalam sekali makan, Indra bisa menghabiskan satu bakul nasi dengan beberapa piring lauk. Hal tersebut membuat kedua orang tuanya resah. Karena pada saat musim paceklik tiba, makanan sulit didapat.

Setiap musim paceklik tiba, Pak Buyung dan istrinya akan berhemat dengan cara memakan ubi dan talas sebagai pengganti nasi. Namun penghematan yang dilakukan Pak Buyung dan istrinya tidak berhasil karena nafsu makan Indra yang besar. Lambat laun cadangan makanan pun habis. Tentu saja hal ini membuat Pak Buyung dan istrinya menjadi kesal.

Di suatu hari, Indra merasa perutnya lapar. Karena di dapur tidak ada makanan, Indra kemudian meminta makanan kepada ayah dan ibunya. Pak Buyung meminta Indra mencari makanan sendiri. Awalnya Indra tidak mau mencari makanan tetapi akhirnya ia pergi juga setelah ibunya membujuk Indra agar mencari hasil hutan di bukit Junjung Sirih.

Indra akhirnya pergi ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil hutan. Sebelum pergi, Indra terlebih dahulu memberi makan ayam peliharaannya. Indra memiliki ayam peliharaan yang ia beri nama Taduang. Karena Indra selalu rutin memberi makan ayam peliharaannya, Taduang pun menjadi ayam yang setia kepada majikannya. Ia akan berkokok jika Indra pulang ke rumah.

Hampir setengah hari Indra mencari hasil hutan di Bukit Junjung Sirih namun tidak mendapatkan hasil. Menjelang siang Indra pergi ke laut untuk mencari ikan namun tidak juga berhasil mendapatkan ikan.

Sementara Indra pergi ke Bukit Junjung Sirih, ibu Indra pergi ke sebuah Tanjung berusaha untuk mencari ikan. Setelah sekian lama mencari ikan, ibu Indra pulang sore hari dengan membawa kerang-kerang. Tentu saja Pak Buyung senang istrinya berhasil mendapat bahan makanan. Ibu Indra kemudian memasak kerang-kerang tersebut. Setelah selesai memasak kemudian Ibu Indra memanggil suaminya untuk makan. Saat itu Indra belum pulang ke rumah. Karena jumlah kerang tidak banyak, sementara nafsu makan Indra sangat besar, akhirnya Pak Buyung dan istrinya memutuskan untuk menghabiskan kerang tersebut tanpa menyisakan untuk anaknya. Selesai makan, keduanya tertidur pulas di dapur dengan perut kenyang.

Menjelang malam, Taduang berkokok pertanda majikannya pulang. Seharian tidak berhasil mendapatkan bahan makanan, Indra pulang ke rumah dengan perut sangat lapar. Begitu masuk, ia langsung menuju dapur. Namun betapa terkejutnya Indra ketika melihat kedua orang tuanya tertidur pulas di dapur. Sementara di sekeliling mereka berserakan kulit kerang dan piring-piring.

Sangat sedih hati Indra mengetahui kenyataan bahwa kedua orangtuanya makan berdua tanpa memperdulikan anaknya. Merasa tidak dicintai oleh kedua orangtuanya, Indra berjalan keluar rumah sambil menangis. Taduang berkokok berkali-kali sambil mengepak-ngepakkan sayapnya melihat majikannya bersedih.

Indra kemudian duduk di sebuah batu dengan lunglai. Ingin rasanya ia terbang jauh pergi dari rumah orangtuanya. Saat Taduang kembali mengepak-ngepakan sayapnya, Indra memegang kaki Taduang. Indra kemudian terbawa terbang ke udara oleh Taduang, ayamnya. Ajaibnya, batu tempat Indra duduk pun ikut terbawa terbang. Semakin tinggi Indra terbang semakin membesar batu tempat duduknya. Karena sudah sangat besar, akhirnya batu tersebut jatuh ke bumi menghantam salah satu bukit di sekitar laut. Hantaman yang sangat keras tersebut membentuk sebuah lubang memanjang. Karena posisi lubang yang lebih rendah dari laut, dengan cepat air laut mengisi lubang tersebut sehingga membentuk aliran sungai. Sungai tersebut kini bernama Sungai Batang Ombilin yang airnya mengalir hingga Riau. Sementara air laut semakin lama semakin menyusut dan berubah menjadi sebuah danau. Danau tersebut kini dinamai danau Singkarak.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu