Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Jawa Timur Jawa Timur
Asal Usul Coban Rondo - Jawa Timur - Jawa Timur
- 28 Maret 2018

Dewi Anjarwati berdiri di depan cermin. Ia mengenakan kerudung putih berenda pemberian suaminya. Rambut yang biasanya panjang tergerai, kini tertutup kerudung. Hanya beberapa helai rambut di atas dahi yang terlihat bergoyang diterpa angin.

“Tidak bisakah kamu tunda keinginanmu, Nak?” tanya ibu Dewi Anjarwati sambil memasukkan nasi ke dalam rantang. Kepulan nasi dikibas-kibaskannya dengan caping agar uapnya hilang.

Dewi Anjarwati menoleh, lalu berjalan mendekati ibunya. Kedua tangannya meraih tangan ibunya. “Maafkan saya, Ibu. Kali ini saya dan Kang Mas Baron harus berangkat. Mumpung belum masuk musim penghujan. Kata Kang Mas, jalan menuju Gunung Anjasmoro agak terjal.”

Ibu Dewi Anjarwati menghela napas. Berat baginya melepas kepergian anak semata wayangnya. Meski ia tahu bahwa kepergian anaknya ditemani suaminya, Raden Baron Kusumo, orang  sakti dari Gunung Anjasmoro. Namun, ia khawatir hal buruk akan menimpa anaknya. Mengingat usia pernikahan keduanya baru selapan atau tiga puluh lima hari.

“Baiklah. Kalau memang keinginanmu tidak bisa ditunda, Ibu dan Bapak merestuimu. Hati-hatilah di jalan!” nasihat ibu Dewi Anjarwati.

Dewi Anjarwati tersenyum, lantas memeluk ibunya. “Matur nuwun, Bu” ucapnya lirih.

Setelah mendapatkan restu kedua orang tuanya, Dewi Anjarwati bersama suaminya berangkat menuju Gunung Anjasmoro. Untuk sampai tujuan, keduanya harus menuruni Gunung Kawi, menyeberangi pulau, dan melewati perkampungan sebelah timur Jawa. Jika tak ada aral melintang, perjalanan tersebut bisa ditempuh dalam waktu lima hari.

Setengah hari perjalanan telah mereka lewati. Karena baru pertama kali melakukan perjalanan jauh, Dewi Anjarwati tampak kelelahan. Kerudung yang dikenakannya tampak basah. Keringat di dahinya meleleh hingga melintasi pipi. Melihat istrinya kelelahan, Raden Baron Kusumo memutuskan untuk beristirahat sejenak.

“Kang Parjo, sampeyan ikut saya mencari air. Yang lain silakan istirahat di sini. Tolong jaga baik-baik istri saya,” pesan Raden Baron Kusumo kepada rombongan punakawan yang menyertainya.

Seusai pamit pada Dewi Anjarwati, Raden Baron Kusumo bersama Parjo kemudian menuju sumber air. Dari tempat mereka berhenti memang sudah terdengar gemuruh suara air. Tidak lama keduanya sampai di sumber air yang dimaksud. Ternyata suara gemuruh tersebut adalah suara coban atau air terjun. Penat dan dahaga seketika sirna saat keduanya melihat coban dari dekat.

Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar coban, Raden Baron Kusumo mengajak Parjo kembali ke tempat semula. Keduanya menenteng kendi penuh air.

Dua puluh langkah dari tempat rombongan beristirahat, Raden Baron Kusumo melihat seorang laki-laki tak dikenal mengganggu istrinya. Para punakawan berusaha menghalangi. Namun, laki-laki bertubuh kekar tersebut terlihat memaksa. Merasa istrinya diganggu orang lain, Raden Baron Kusumo bergegas mendekat.

“Hei kisanak, menjauhlah! Berani-beraninya sampeyan mendekati istriku,” teriak Raden Baron Kusumo.

Laki-laki tak dikenal itu kaget mendengar suara lantang Raden Baron Kusumo. Tak lama kemudian ia tertawa. “Ha ha ha. Siapa sampeyan, anak muda? Tak kenalkah sampeyan dengan Joko Lelono?” ucapnya keras sambil menepuk dada.

Raden Baron Kusumo jengkel melihat senyuman di wajah Joko Lelono. “Jangan dekat-dekat dengan istriku! Atau sampeyan akan tahu akibatnya,” hardik Raden Baron Kusumo.

Merasa dirinya ditantang, Joko Lelono langsung mendaratkan pukulan ke arah Raden Baron Kusumo. Hampir saja serangan mendadak tersebut mengenai bahu lawannya jika Raden Baron Kusumo tak gesit menghindar.

“Sampeyan mengajak tanding rupanya? Ayo, saya siap meladeni,” ucap Raden Baron Kusumo dengan nada geram.

“Kang Mas, jangaaan! Tak ada gunanya meladeni orang sepertinya,” teriak Dewi Anjarwati cemas melihat suaminya hendak berkelahi dengan Joko Lelono.

Raden Baron Kusumo tidak menanggapi larangan istrinya. Baginya, perseteruan ini menyangkut harga dirinya sebagai seorang suami.

“Parjo, bawa istriku dan punakawan yang lain ke tempat aman!” perintah Raden Baron Kusumo. “Kuselesaikan dulu urusan ini.”

Kaki Dewi Anjarwati seketika lemas. Ia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada suaminya. Namun, keputusan itu harus ia hargai. Ia pun pergi bersama para punakawan sesuai perintah suaminya.

Di sekitar coban, Dewi Anjarwati duduk di atas batu besar. Air matanya tak henti menetes. Sesenggukan ia menangisi suami yang baru memperistrinya tiga puluh lima hari silam.

“Seandainya aku menuruti nasihat Bapak dan Ibu, kejadian seperti ini tidak akan terjadi,” sesalnya dalam hati.

Nasi sudah menjadi bubur. Sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi. Hanya doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang bisa dilakukan. Dewi Anjarwati pun komat-kamit merapal doa demi keselamatan suaminya. Sedih dan lelah yang mendera membuat Dewi Anjarwati jatuh tertidur di atas batu.

Dewi Anjarwati terbangun saat pagi menjelang. Melalui Parjo, ia dikabari bahwa suaminya telah gugur. Tidak ada yang menang dalam perkelahian itu. Joko Lelono pun dikabarkan telah mati. Sejak saat itu, Dewi Anjarwati menjadi seorang janda.

Air terjun tempat persembunyian Dewi Anjarwati saat ini dikenal dengan sebutan Coban Rondo. Coban artinya air terjun. Sedangkan Rondo artinya janda. Coban Rondo saat ini menjadi tempat wisata menarik yang terletak di Kota Malang, Jawa Timur.



 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/asal-usul-coban-rondo/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum