Kayangan geger. Sesuatu telah menyebabkan guncangan. Seperti gempa. Petir menyambar, halilintar menggelegar. Saling bergantian.
Bila dilihat dari kayangan, ada benda besar dari bumi yang terus naik ke atas. Puncaknya nyaris menyentuh batas kerajaan kayangan.
“Astaga, apa gerangan yang terjadi?” Bidadari Biru bertanya-tanya sendiri sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Bidadari Biru, lekaslah. Batara Guru memanggil kita!” seru Bidadari Kuning memanggilnya.
Bidadari Biru buru-buru menuju aula kerajaan kayangan. Di sana berkumpul para dewa. Batara Guru, sang pimpinan dewa, tampak berpikir keras. Bidadari Biru bergabung bersama enam bidadari lainnya.
“Telah terjadi kekacauan di kayangan karena ulah Pangeran Arjuna,” jelas Batara Guru.
Rupanya Pangeran Arjuna sedang bertapa di lereng sebuah gunung, untuk menambah kesaktian. Kekhusyukannya dalam bersemadi, menyebabkan munculnya sinar menyilaukan dari tubuhnya. Kesaktian Pangeran Arjuna juga menyebabkan gunung tempatnya bertapa terangkat naik hingga mendekati batas kayangan.
“Aku sudah menyuruhnya berhenti bertapa, tapi ia tak mau mendengarku!” Batara Guru gusar.
“Apa yang harus kami lakukan, Batara Guru?”
“Kita harus menghentikan semadi Pangeran Arjuna. Kalian tujuh bidadari, turunlah ke bumi. Menarilah di depan Pangeran Arjuna, untuk membuyarkan konsentrasinya!”
Tujuh bidadari bergegas melaksanakan tugas. Turun ke bumi dan mulai menari di depan Pangeran Arjuna yang sedang bertapa. Tarian bidadari sangat indah. Tidak seperti tarian orang biasa. Andai ada manusia yang melihat, pasti kagum. Namun yang terjadi, Pangeran Arjuna bergeming. Tak terpengaruh sedikitpun. Tekadnya kuat untuk menambah kesaktian. Bahkan teguran Batara Guru diabaikannya.
“Bagaimana ini? Kita sudah lama menari tapi ia tetap diam tak bergerak,” gerutu Bidadari Merah kesal.
“Sebaiknya kita pulang saja,” ucap Bidadari Biru.
Tujuh bidadari kembali ke kayangan sambil tertunduk malu karena gagal dalam tugas.
Batara Guru tak habis akal. Ia mengirim makhluk halus berwujud menyeramkan, untuk menakut-nakuti Pangeran Arjuna. Namun, upaya itu juga tak berhasil menggoyahkan sang pangeran.
Upaya terakhir Batara Guru, adalah meminta bantuan dari Batara Semar. Batara Semar adalah seorang dewa yang menjelma menjadi manusia dan tinggal di bumi. Ia mengasuh Pangeran Arjuna dan empat saudara Pangeran Arjuna yang lain sejak kecil. Tentunya Batara Semar punya kiat khusus untuk membangunkan Pangeran Arjuna.
“Semoga, Batara Semar dapat menunaikan tugasnya dengan baik,” doa Bidadari Biru, yang sangat prihatin dengan adanya masalah ini.
Batara Semar meminta bantuan Batara Togog. Batara Togog juga seorang dewa yang tinggal di bumi. Mereka segera menuju gunung tempat Pangeran Arjuna bersemadi. Setelah berembug, mereka berdua lalu ikut bersemadi tak jauh dari Pangeran Arjuna.
Karena kedua dewa tersebut juga sakti mandraguna, tak lama mereka berdua membesar, hingga sebesar gunung. Mereka berdiri di sisi gunung tempat Pangeran Arjuna bertapa. Dengan kekuatan penuh, mereka mencoba memotong puncak gunung yang sudah hampir menyentuh kayangan.
“Ayo, Gog. Iki diuncalke wae, jalaran mbebayani. Ayo, Gog. Ini dilemparkan saja karena membahayakan,” begitu kata Batara Semar dalam bahasa Jawa. Potongan puncak gunung itu mereka lemparkan hingga menimbulkan suara berdebam keras, gemuruh, memekakkan telinga.
Penghuni kayangan yang melihat semua peristiwa dari langit, berseru kagum dan juga lega. Untuk sementara mereka terhindar dari bahaya diseruduk puncak gunung. Bidadari Biru bersyukur, lalu kembali mengamati apa yang terjadi selanjutnya.
“Suara apa itu?” seru Pangeran Arjuna yang terbangun dari semadinya. Batara Semar dan Batara Togog yang sudah kembali ke ukuran normal, mendekati Pangeran Arjuna.
“Maaf, Pangeran Arjuna,” ujar Batara Semar.
“Pertapaan Ananda, apabila diteruskan, akan menyebabkan malapetaka. Lebih baik Ananda berhenti.”
Pangeran Arjuna memandang di kejauhan, tampak puncak gunung telah berdiri sendiri menjadi sebuah gunung yang utuh. Seketika Pangeran Arjuna menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf pada Batara Semar dan Batara Togog. Ia juga minta maaf pada Batara Guru dan semua penghuni kayangan.
Bertahun-tahun kemudian, Bidadari Biru yang turun ke bumi tiap habis hujan bersama-sama keenam bidadari lainnya, masih mengingat kisah itu. Setelah menunaikan tugasnya mewarnai langit sebagai pelangi, Bidadari Biru akan tersenyum memandangi Gunung Arjuna. Ya, demikianlah kemudian gunung itu dinamakan. Di sisi yang lain ada gunung yang lebih kecil, yaitu Gunung Wukir, yang asalnya dari potongan puncak Gunung Arjuna. Kedua gunung tersebut terletak di Kota Malang, sebelah timur Pulau Jawa.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/asal-mula-gunung-arjuna/
Sampurna, Mas Henry! Ieu mah geus rapi pisan – tinggal salin langsung témpél ka WordPress, beres. Aku bantu salinkeun deui dina bentuk blok anu gampang di-copy: Judul: PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK – Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Penulis: Mas Henry Kategori: Etika, Moral & Pepatah ═════════════════════════════════ PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ═════════════════════════════════ ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatr...
📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA Kidung Lakbok Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. Sejarah dan Asal-Usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini. Rama...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...