Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah daerah yang tenteram dan damai di pinggiran Bengawan Solo. Di daerah tersebut, hiduplah seorang laki-laki tua yang sakti mandraguna. Ia dapat menyebrangi Bengawan Solo dengan berjalan di atas air dan ia juga hanya memakan intip (bagian nasi yang keras dan gosong yang melekat pada dasar periuk atau kerak nasi) sebagai makanan pokoknya. Orang-orang di daerah tersebut memanggilnya dengan sebutan Mbah Tambir.
Karena kesaktiannya tersebut, warga di daerah itu sangat menghormati sosok Mbah Tambir tersebut. Segala masalah yang terjadi di daerah tersebut selalu dibicarakan terlebih dahulu kepada Mbah Tambir. Mbah Tambir juga selalu mempunyai solusi untuk setiap masalah yang terjadi.
Hingga suatu ketika terjadi keanehan di daerah tersebut. Seorang pemuda menemukan sebuah pohon yang belum pernah dijumpainya. Pohon tersebut tumbuh di pinggiran Bengawan Solo. Pemuda tersebut memutuskan untuk menceritakan kejadian itu kepada warga yang lainnya. Setelah mendengar cerita dari pemuda tersebut, mereka memutuskan untuk menanyakannya pada Mbah Tambir. Mereka takut jika pohon tersebut akan mendatangkan kesialan atau bencana pada mereka. Mereka sangat mempercayai segala hal yang berbau mistis.
Dengan perasaan yang gelisah, mereka mendatangi rumah Mbah Tambir. Di sana, mereka menceritakan kembali kejadian yang dialami pemuda itu. Setelah mendengar cerita tersebut, Mbah Tambir memutuskan untuk mendatangi tempat tumbuh pohon tersebut dan diikuti oleh warga daerah tersebut. Setelah sampai di pinggiran Bengawan Solo yang menjadi tempat tumbuhnya pohon tersebut, Mbah Tambir mengamati pohon tersebut dengan teliti. Selang beberapa menit kemudian, Mbah Tambir memetik buah tersebut dan mencicipinya. Namun tak lama ia memuntahkan buah tersebut. Ia mengatakan bahwa rasa dari buah tersebut sangat pahit. Hal itu mengingatkannya akan kejadian asal mula nama kerajaan Majapahit. Setelah berpikir keras, Mbah Tambir menyadari bahwa ciri-ciri buah itu sama dengan ciri-ciri buah maja yang menjadi cikal bakal nama Kerajaan Majapahit. Sehingga ia menarik kesimpulan bahwa pohon tersebut adalah pohon buah maja. Ia juga berpikir mungkin biji buah maja ini hanyut di Bengawan Solo dan terdampar di Pinggiran Bengawan Solo.
Kemudian Mbah Tambir pun menyampaikan hasil pemikiran tersebut kepada masyarakat. Mendengar hal tersebut, masyarakat menjadi lega karena pohon maja itu tumbuh secara kebetulan dan tidak ada hal-hal yang mistis dari pohon maja itu. Mereka pun memutuskan untuk menanam pohon maja tersebut di ladang ataupun sawah yang mereka punya, dengan harapan buah maja tersebut akan memberikan manfaat kepada warga sekitar. Dengan adanya penemuan buah maja itu dan warga sekitar yang mayoritas menjadi petani terong, maka daerah tersebut dikenal dengan Dukuh Mojo Terong.
#OSKMITB2018
Soto adalah salah satu masakan Indonesia yang sangat populer dan bisa ditemukan hampir di setiap daerah, masing-masing dengan ciri khas dan keunikannya. Setiap kota memiliki versi soto yang berbeda, tergantung pada budaya dan selera lokal. Salah satunya adalah Soto Bancar , sebuah kuliner khas dari Purbalingga , Jawa Tengah, yang memiliki rasa manis sebagai ciri utamanya. Soto ini sangat digemari oleh warga lokal dan menjadi pilihan favorit para wisatawan yang ingin mencicipi keunikan masakan khas Banyumasan. Asal Usul Soto Bancar Purbalingga, yang terletak di Jawa Tengah, terkenal dengan kuliner khasnya yang beragam dan menggugah selera. Salah satu hidangan yang sangat terkenal di daerah ini adalah Soto Bancar. Nama “Bancar” sendiri berasal dari daerah tempat soto ini pertama kali dijual, yaitu di sekitar perempatan Bancar , Kecamatan Purbalingga. Soto Bancar mulai dikenal dan berkembang sejak beberapa dekade yang lalu, dan hingga kini tetap menjadi favorit...
Kuntulan Semangkung merupakan sebuah Kesenian asal Banjarnegara, lebih tepatnya dari dusun Semangkung, Kecamatan Punggelan. Warisan budaya yang memikat dengan ciri khasnya yang unik dan memukau. Kuntulan Semangkung tidak hanya sekedar seni pertunjukan, tetapi juga sarat dengan nilai filosofis dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam setiap penampilannya, kesenian ini menghadirkan harmoni antara alat musik terbangan (rebana) yang dimainkan oleh sesepuh dusun dan gerakan tarian yang sarat makna. Melalui atraksi seperti "gigit meja" dan "bolang baling," Kuntulan Semangkung tidak hanya menciptakan hiburan visual yang menakjubkan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kearifan lokal yang meleburkan keindahan seni dan kearifan budaya. Apa Itu Kuntulan Semangkung? Kuntulan, atau yang disebut Kuntulan Semangkung ini, merupakan salah satu bentuk seni tradisional khas bagi masyarakat Dusun Semangkung. Seni ini telah diwariskan secara turun temurun sejak...
Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Sesuai dengan namanya, Rampak Gendang merupakan kesenian yang menggunakan gendang atau kendang sebagai media utamanya. Selain gendang, pertunjukan Rampak Gendang ini juga ditemani dengan berbagai macam alat musik seperti bonang, gong, rebab, kenong, demung, peking, saron I dan II, serta rincik. Rampak berasal dari bahasa Sunda yang berarti serempak atau bersama-sama, sehingga Rampak Gendang dapat dikatakan bermain gendang bersama-sama. Rampak Gendang dimainkan oleh lebih dari dua orang dan semua pemain menggunakan kostum yang sama. Mereka mengenakan pakaian tradisi Sunda, yaitu takwa, sinjang dan udeng (ikat kepala). Tetapi untuk penabuh gendang, mereka mengenakan pakaian khusus yang berbeda, yaitu terdapat motif Sunda dengan warna menarik yang seragam. Pada saat pertunjukan dimulai, para pemain akan naik ke panggung dan menempati posisinya masing-masing sesuai dengan alat musik yang dimainkan. Begitu aba-aba dari salah...
Aksara Lampung merupakan sistem tulisan tradisional yang digunakan oleh masyarakat Lampung sejak berabad-abad lalu. Aksara ini termasuk dalam rumpun aksara Brahmi dari India dan memiliki kemiripan dengan aksara Pallawa, Rejang, serta aksara-aksara kuno lain di Sumatra. Dalam masyarakat Lampung, aksara ini dikenal dengan sebutan Had Lampung atau Kaganga, yang diambil dari tiga huruf pertamanya, yaitu ka, ga, dan nga. Pada masa lalu, aksara Lampung digunakan untuk menulis berbagai naskah adat, sastra, hukum, serta catatan kehidupan masyarakat. Tulisan tersebut biasanya ditorehkan pada media seperti kulit kayu, bambu, tanduk, maupun daun lontar. Meskipun penggunaannya sempat menurun akibat pengaruh modernisasi dan penggunaan huruf Latin, aksara Lampung kini terus dilestarikan melalui pendidikan dan berbagai kegiatan kebudayaan sebagai bagian dari identitas masyarakat Lampung. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Lampung
Tari Jauk adalah salah satu tari tradisional khas Bali yang terkenal karena gerakannya yang enerjik, ekspresif, dan penuh karakter. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang penari laki-laki dengan mengenakan kostum berwarna cerah, kain khas Bali, hiasan kepala, serta topeng yang memiliki mata besar dan ekspresi tajam. Nama “Jauk” sendiri sering dikaitkan dengan sosok makhluk penjaga atau tokoh yang memiliki sifat gagah, kuat, dan kadang terlihat menyeramkan. Oleh karena itu, penampilan Tari Jauk mampu memberikan kesan dramatis sekaligus memikat bagi penonton. Gerakan dalam Tari Jauk sangat khas karena menonjolkan penggunaan topeng berwarna merah atau putih, gerakan tangan, dan langkah kaki yang cepat. Penari harus mampu menggerakkan wajah topeng ke kanan dan kiri dengan lincah, lalu menggabungkannya dengan posisi tubuh yang tegas dan dinamis. Gerakan tersebut mencerminkan karakter tokoh Jauk yang selalu waspada, berani, dan memiliki kekuatan batin. Iringan gamelan Bali yang cepat...