Setiap desa memiliki cerita legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Termasuk juga Desa Majatengah yang berada di Kecamatan Kemangkon, Purbalingga.
Di Desa Majatengah ada cerita tentang asal mula Cibuek. Menurut Braling.com, dahulu kala Cibuek merupakan tegalan sawah, tetapi sekarang Cibuek merupakan pedukuhan.
Masyarakat di Desa Majatengah masih menganggap Dukuh Cibuek sebagai tanah keramat. Lokasi tegalan itu telah menjadi tanah perdikan atau tanah yang tidak dipungut pajak.
Kisah asal mula Cibuek berawal dari zaman Kadipaten Wirasaba masih berdiri. Di bagian timur Desa Majatengah Kiai Gede Buara dan istrinya. Mereka berdua merupakan petani.
Tegalan yang dikelola oleh pasangan petani itu menjadi tanah subur, sehingga hasil tanamnya melimpah, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di rumah petani itu tinggal pula seorang pemuda.
Sebenarnya pemuda itu adalah Raden Jaka Katuhu. Ia menyamar sebagai seorang peminta-minta. Karena merasa iba, maka pemuda itu lalu disuruh tinggal dirumah Kiai Gede Buara.
Raden Jaka Katuhu ialah putera sulung Raden Baribin asal Majapahit yang menjadi raja di Pajajaran. Raden Baribin memerintahkan Jaka Katuhu agar mengembara ke timur dan mengabdi kepada orang yang membantunya.
Di wilayah Kadipaten Wirasaba, Raden Jaka Katuhu bekerja di ladang, membantu menanam berbagai macam tanaman yang bisa menghasilkan termasuk karang kitri
Tetapi setiap pulang kerumah Jaka Katuhu tidak mau berjalan bersama Kiai Gede Buara, ia selalu pulang belakangan. Kiai Gede Buara pun merasa aneh dengan perilaku Jaka Katuhu.
Suatu sore, Kiai Gede Buara mencoba menyelidikinya. Di ladang, ia melihat api berkobar. Ternyata, Raden Jaka Katuhu tiba-tiba melompat masuk kedalam kobaran api tersebut.
Kiai Gede Buara cemas. Tetapi, tak lama kemudian kecemasan itu hilang dan berubah menjadi keheranan. Sebab, tiba-tiba Raden Jaka Katuhu keluar dari kobaran api dengan penampakan yang lebih bercahaya.
Karena kejadian itu, tegalan yang digarap Kiai Gede Buara dikenal dengan sebutan Cibuek. Luas tegalan itu sekitar setengah Hektar, diatasnya tumbuh 25 dapuran pring dari berbagai macam jenis.
Sumber: http://dolanpurbalingga.com/2017/10/21/cerita-rakyat-mengenai-asal-mula-cibuek-di-majatengah/
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...