Di Pulau Bali yang merupakan Pulau Dewata, terdapat tiga putra Batara Siwa yaitu Batara Gunung Agung, Batara Andakasa dan Batara Batur. Batara Batur setiap ada hama merusak tanamannya agar segera meminta maaf kepada Batara Gunung Agung dan Batara Andakasa ke laut. Di samping itu, Batara Batur juga diharapkan agar setiap tahun memohon maaf ke sana dengan melakukan upacara yang disebut Nangluk Merana, yaitu upacara mengusir atau membasmi hama.
- Putra tertua beristana di Gunung Agung dengan gelar Batara Gunung Agung. Ia memiliki kegemaran beternak hewan seperti kerbau, sapi, babi, kambing, dan ayam.
- Putra kedua beristana di Andakasa dengan gelar Batara Andakasa. Ia adalah penguasa laut di sekitar Pulau Bali dan gemar memelihara berbagai jenis ikan di laut.
- Putra ketiga beristana di Batur dengan bergelar Batara Batur. Putra bungsu Batara Siwa ini gemar menanam beraneka ragam tumbuhan pangan.
- “Pengawal! Cepat kamu selidiki penyebab dari kejadian ini!” seru Batara Gunung Agung.
- "Baik, Paduka! Perintah Paduka segera hamba laksanakan,” jawab sang pengawal seraya mohon diri.
Penguasa Gunung Agung itu tidak pernah menyangka kalau Batara Batur tega melakukan hal itu. Ia pun bergegas menemui adiknya di Batur.
- “Ampun, Paduka! Rupanya, binatang ternak Paduka berkurang karena dibunuh oleh Batara Batur,” lapor pengawal itu.
- “Apa katamu?” kata Batara Gunung Agung dengan terkejut,
- “Wah, hal ini sangat sulit untuk dipercaya.”
- “Wahai, Adikku! Mengapa engkau membunuh binatang-binatang ternakku?” tanya Batara Gunung Agung.
- “Maafkan Dinda, Kanda! Dinda mengira binatang-binatang itu bukan milik Kanda. Lagi pula, mereka merusak tanaman Dinda,” jawab Batara Batur.
- “Kalau bercocok tanam, seharusnya engkau pagari tanamanmu agar tidak dirusak binatang,” ujar Batara Gunung Agung dengan perasaan kesal.
- “Maaf, Kanda. Kanda jangan hanya menyalahkan Dinda. Binatang ternak Kanda juga perlu dipagari agar tidak berkeliaran di mana-mana dan tidak merusak tanaman orang lain,” kata Batara Batur membela diri.
- “Semoga bangkai-bangkai itu berbau busuk dan amis.”
- "Ampun, Paduka! Air laut telah dicemari oleh bangkai binatang yang jumlahnya sangat banyak,” lapor salah seorang warga.
- “Benar, Paduka! Selain air laut berbau busuk dan amis, banyak pula ikan yang mati akibat bangkaibangkai itu,” imbuh seorang warga lainnya.
- “Wahai, Adikku! Mengapa engkau membuang bangkai-bangkai binatang itu ke laut? Bangkai binatang tersebut menyebabkan ikan-ikan peliharaanku banyak yang mati,” ungkap Batara Andakasa.
- “Semestinya bangkai-bangkai itu kamu tanam di dalam tanah supaya tanah menjadi subur,” imbuhnya.
- “Maafkan Dinda, Kanda! Dinda tidak tahu apa yang harus Dinda perbuat dengan bangkai binatang yang banyak itu. Dinda tidak pernah berpikir kalau bangkai itu akan membunuh ikan-ikan peliharaan Kanda,” jawab Batara Batur.
Mendengar perintah itu, hama-hama tersebut dengan cepat merusak seluruh tanaman Batara Batur. Melihat kejadian itu, Batara Batur menciptakan hujan untuk menghalau mereka. Namun, usaha itu tidak berhasil. Akhirnya, ia melaporkan masalah itu kepada ayahandanya, Batara Siwa, di Gunung Mahameru.
- “Kalian semua, hancurkan seluruh tanaman adikku di Batur!” seru Batara Andakasa.
- “Wahai, putra-putraku! Rukunlah kalian dalam bersaudara!” ujar Batara Siwa,
- “Putraku Batara Gunung Agung buatkanlah kandang untuk binatang ternakmu.
- "Demikian juga putraku Batara Batur janganlah lupa memagari tanamanmu. Untuk putraku Batara Andakasa tidak usah khawatir. Mulai saat ini, ikan-ikan peliharaanmu sudah senang makan bangkai jika ada yang hanyut ke laut sehingga mereka menjadi gemuk.”
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...