Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Pantun Berbalasan Sulawesi Selatan Polongbangkeng Takalar
Akkio' Bunting
- 6 Maret 2015

Akkio Bunting adalah semacam pentun berbalasan yang dipakai oleh sipengantar penganti dengan penjemput pengantin yang ada di sulawesi selatan tepatnya suku makassar. pertunjukan ini semacam hiburan yang digunakan oleh masyarakat takalar untuk memeriahkan pesta yang sedang berlangsung sekaligus mempunyai makna dan nilai filosofis yang terkandung dalam syair akkio bunting tersebut.  Berikut syair akkio bunting yang saya dapati, 

 

Akkio Bunting

 

Iadende-iadende nia tojengmi deng bunting…

Bunting salloa ku tayang

Salloa kuminasai

Ku kanroa ri nabbia

Ku palaka ri bataraya

Kuminasaiya bunting

Nama bunting tojeng todong

 

 

Nampako ri ujung borikku deng bunting…

Ri cappa pa~rasangangku

Na ku tewa-tewako guru

Kuminasaiko sunggu ri ka issilangngang

 

Ipantarang emba injako pole deng bunting…

Ri boko pangngala~ injako

Na kuruppaiko jama~

Ku buntuliko agama

 

 

Naki tulusukmo antama deng bunting…

Ri cappa bangkeng tukatta

Tuka~ ni anronga bang

Ni coccorongia kama~

Ni bariangngi paddoangang patampulo

 

Nampa tulusukki naik deng bunting…

Ri paladang fatihanu

Ni rinringa pangngumpu

Ni belo-belo ruku~

Ni jajari sami allah

Ni jaling su~ju

Ni dasere empo tahiya

 

 

Annyungke tommaki anne pole deng bunting…

Pakkebbu ni bari sallang

Annussu tommaki pole

timungang puji-pujiang

 

Nampa tulusukko antama deng bunting…

Ri kale balla lomponu

Nu mammempo ri tappere gauk assanu

Nu mammangjeng

Ri benteng katarimannu

Antali-tali kitta~nu

Angngapeliki barasangjinu

 

Nubbali empomo sallang deng bunting…

Ana~ guru sarapa~nu

Nuttutu sulengkamo pole

Ana~  Guru santarinu

 

Sallo-salloko ammempo deng bunting…

Nia tommi daeng ngimang

Wakkele~na tuang kali

Ana~ ilalang makkaya

Tau langnyinga junnu~na

Tau tangkasaka satinjana

Tau assaya gau~na

Ni tarimaya paddoanganna

Ri karaeng allah ta~ala

 

 

Na nitunuang mako anne deng bunting…

Kanjoli tai baninu

Nani parumbumo pole

Dupa kamangnyang te~ne nu

 

Nampa ni nikka ko iya deng bunting…

Ri dallekanna ada~ tumapparentanu

Gallarrang pa~rasangannu

Sakbinna kalabinenu

Eronna amma~na

Samaturu~na manggena

 

 

Na punna le~bakko a~nikka deng bunting…

Nani erang mako antama

Ri bili~ ka issilangngang

Ri pa~lungang sunduseng

Ri tappere istabaraking

Ampabattui nikkanu

Ri baine la~biri~nu

 

Na punna nu cini sallang deng bunting…

Baine la~biri~nu

Na roko pakeang

Na tammu pa~belo-belo

Sanrapang mami sallang

Ana~-ana~ bidadari ri suruga

Na sossong pale

Na tinriang wari-wari

 

 

Ka pappasang deng bunting…

Pale mammingkung bangngi

Na katumbangngangi sallang

Rinring  tumattoa~nu

Na katepokangi sallang

Pallangga tu mammujinu

 

Manna ilaukko kau deng bunting…

Manna irayako

Manna ilalangko attangnga

Ikauji kunjung ni toa

Ata karaeng mangngai

Mammuji ngaseng

Na sba~ allah ta~ala

 

Bunting ta bunting nai ngasemmaki mae

 

 

 

Nara sumber : Dg Temba

Pekerjaan : Security PG. Takalar

Umur : 49 Tahun

Tanggal penyalinan : 10 Juli 2009

Bahan : Kertas salinan d tulis latin Makassar

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu