Ritual
Ritual
Ritual DKI Jakarta DKI Jakarta
Adat Pernikahan Betawi
- 1 Juli 2014

Budaya betawi mengenal cara yang bertingkat-tingkat untuk sampai pada tahap berumah tangga. Tahap-tahap itu pada saat ini memang jarang atau tidak lagi dilakukan, karena berbagai halangan. Tahap-tahap tersebut adalah:

a. Ngedelegin, mencari calon menantu perempuan yang di lakukan oleh Mak Comblang.

b. Ngelamar, pernyataan meminta pihak lelaki kepada pigak perempuan.

c. Bawa Tende Putus, pernyataan atau kesepakatan kapan pernikahan akan dilaksanakan.

d. Ngerudat, rombongan keluarga pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan, seraya membawa serah-serahan seperti roti budaya, pesalin, sie, dan lain-lain

e. Akad Nikah, ikrar yang di ucapkan oleh pengantin laki-laki di hadapsn wali pengantin perempuan.

f. Kebesaran, upacara kedua mempelai duduk di puade untuk menerima ucapan selamat dari keluarga dan undangan

g. Negor, upaya suami merayu istrinya untuk memulai hidup baru sebagai sebuah keluarga

h. Pulang Tige Ari, upacara resepsi pernikahan yang di lakukan di rumah keluarga pengantin lelaki. 

 

Berikut penjelasan lebih detail tentang adat pernikahan Betawi:

LAMARAN

Sebagai “tanda jadi” agar si wanita tidak dibawa kabur oleh lelaki lain, khitbah atau lamaran adalah proses yang wajib dilewati sebelum menikah. Lalu, bagaimana proses lamaran ala Betawi?

Biasanya sebelum hari lamaran tiba, calon pasangan pengantin akan mempersiapkan sebuah cincin untuk dipakaikan ke calon mempelai wanita pada saat hari lamaran. Jumlah budget yang dimiliki lelaki disesuaikan dengan desain dan jenis bahan perhiasan (emas kuning/emas putih/perak). Ibaratnya cincin ini adalah hadiah untuk sang calon isteri.

Setelah disepakati waktu lamaran, rombongan keluarga laki-laki (biasanya terdiri dari orang tua calon mempelai pria, mak comblang, saudara dan tetangga dekat) akan datang membawa sejumlah hadiah untuk keluarga dan calon pengantin perempuan. Barang yang biasa dibawa adalah roti tawar dan sirup merah, sirih lamaran, pisang raja. Lainnya bisa berupa parsel buah atau bahan baju untuk calon mempelai wanita.

Di acara lamaran ini, ada perwakilan pembicara dari rombongan laki-laki (pengantar), ada juga perwakilan pembicara dari rombongan perempuan (penerima). Acara dibuka dengan pernyataan maksud kedatangan rombongan laki-laki ke rumah keluarga perempuan. Kemudian disambut oleh wakil dari keluarga wanita yang intinya menerima niatan dari keluarga laki-laki untuk meminang anak perempuan mereka.

Nah, dalam kondisi ini, calon pengantin wanita berada di dalam kamar dan tidak keluar hingga dipanggil oleh salah seorang keluarganya untuk dipakaikan cincin yang sudah dipesan sebelumnya. Setelah sesi pembukaan selesai, barulah segmen pemakaian cincin di jari kiri calon pengantin wanita dan dilanjutkan dengan doa, lalu ramah tamah alias makan-makan.

Tidak ada persiapan khusus bagi calon pengantin wanita. Biasanya hanya make up standar, tanpa harus menyewa seorang tata rias atau hijab stylish. Namun, hal ini bersifat fleksibel. Kalau mau sewa jasa tersebut, ya tidak apa. Oiya, pada saat lamaran ini biasanya calon pengantin pria tidak ikut datang. Jadi benar-benar orang tua dan sanak saudaranya saja yang datang.

Barang-barang bawaan (utama makanan) yang dibawa oleh rombongan laki-laki akan dibagikan ke sanak saudara dan kerabat keluarga wanita. Oleh karena itu, bakal basa(simbol) banget kalau ada orang yang ngebagiin roti tawar dan sirop ke saudara atau tetangganya. Ini pertanda lamaran telah dilangsungkan. Biasanya, tak lama setelah itu resepsi pernikahan dilaksanakan.

Nantinya, pihak keluarga wanita akan datang ke rumah calon pengantin pria. Istilahnya mulangin sirih. Ada beberapa jenis kue yang dibawa, masing-masing jenis dibawa secara berpasang-pasangan (2 buah). Dalam pertemuan ini akan dibicarakan hari pernikahan, apa mahar yang diminta, berapa uang belanja yang dimaui, prosesi apa aja yang diminta pihak wanita pada saat hari H (ada palang pintu atau tidak).

 

PRARESEPSI PERNIKAHAN


Seperti yang saya katakan di atas, dalam adat Betawi tidak ada ritual khusus untuk konsumsi publik pada saat praresepsi pernikahan (macem siraman dalam adat jawa). Kalau pun ada ritual mandi kembang (hanya) untuk calon pengantin wanita, itu lebih diperuntukkan menjaga calon mempelai wanita agar tidak keluar keringat saat hari pernikaahan nanti. Dalam tradisi Betawi, agak jarang resepsi dilaksanakan di gedung. Mereka lebih memilih mengadakan resepsi di rumah sendiri. “Biar lebih puas, biar tamu yang datang bisa berlama-lama, biar bisa banyak ngobrol dengan tamu-tamu yang jarang ketemu,” itulah serentetan alasan mereka.

Seminggu sebelum nikah, biasanya calon mempelai wanita dilarang mengonsumsi makanan-makanan yang enak-enak alias mutih. Usahakan makan makanan yang hambar, tanpa garam, tanpa kecap, tidak boleh terlalu manis, tidak makan sayur. . Sekali melanggar, gagallah efeknya. Pengantin akan bajir keringat di hari H.

Selain konsumsi makanan tertentu, biasanya calon pengantin wanita tidak diizinkan keluar rumah seminggu sebelum hari H. Namun, seiring perkembangan zaman, hal ini sudah tidak berlaku lagi. Biasanya 3 hari sebelum hari H, calon pengantin wanita diminta rehat dari segala rutinitas. Ini diperuntukkan menajaga stamina di hari H.

Selama tiga hari sebelum hari H pula, calon pengantin wanita diminta untuk minum jamu yang sudah “dibaca-bacain”. Selama dua hari menjelang hari H, dilakukan perawatan tubuh, mulai dari pemakaian lulur yang baunya wangiii sekali hingga ditangas. Biasanya ada orang tertentu yang berprofesi “merawat” pengantin. Waktu saya si nenek yang melakukannya. Pengantin tidak asal “dipelihara, tentunya ada bacaan-bacaan tertentu supaya acara berjalan lancara.

Apa yang dilakukan calon pengantin wanita saat ditangas? Sang perawat pengantin akan memasak air yang dicampur dengan daun pandan (saya kurang tahu apakah hanya daun pandan atau ditambah dedaunan lainnya). Setelah air matang, dituangkan ke dalam dandang. Nantinya si calon pengantin ini akan duduk di kursi menghadap dandang dalam kondisi bugil dan berselimutkan rapat tikar pandan. Iya, calon penagntin bugil di dalam sana, sambil mengaduk-aduk dandang menggunakan sendok. Ini diperuntukkan mengeluarkan uap dari air panas itu, sehingga memicu keringat keluar dari tubuh calon pengantin wanita.

Jika airnya sudah tidak panas dan keringat dirasa banyak keluar, proses tangas selesai. Lalu, sang calon pengantin wanita dimandikan air kembang sambil “dibaca-bacain” lagi oleh sang pemelihara pengantin.

Yup prosesi ini tujuannya sekali lagi agar keringat tidak keluar di hari H dan tubuh si wanita tidak bau keringat. Oiya untuk lulur, lulurnya bukan lulur biasa yang ada di iklan-iklan tv, lho ya. Saya lupa merk lulurnya :D Ada dua jenis lulur pokoknya, warna putih dann warna kuning dan itu semua saya dapatkan dari nenek saya, sang pemelihara calon pengantin wanita.

Kalau untuk calon pengantin pria, tidak ada ritual khusus. Paling hanya pergi ke salon untuk ngerapiiin diri. Intinya tidak seribet yang dialami calon mempelai wanita.

 

PERNIKAHAN

Yup, pagi sebelum ijab qabul dilaksanakan, calon mempelai wanita dilarang mandi. Yang jelas malam pasca mandi kembang, habis itu istirahat, bangun pagi, sarapan, langsung make up.

Ada serangkaian acara yang harus dilewati kedua calon pengantin sebelum ijab qabul, diantaranya calon pengantin laki-laki beserta rombongan diarak sambil diiringi shalawat atau rebana ketimpring menuju ke lokasi akad. Kemudian, dilanjutkan sesi palang pintu, baru akad nikah. Secara keseluruhan, adat nikah di Kompasiana mengacu pada peraturan agama Islam.

 

Arak-arakan

Untuk arak-arakan, kalau rumah kedua calon pengantin deket, dilangsungkan arak-arakan dari rumah ke rumah. Namun, kalau letaknya jauh atau lokasi tidak berada di rumah, biasanya cukup diputuskan saja di mana lokasi start dan finish-nya.

Kalau mau lebih seru lagi, arak-arakan ini diiringi dengan marawis atau rebana ketimpring. Pengantin dan orangtuanya jalan ke lokasi acara, ada juga yang naik delman dan diiringi oleh dua ondel-ondel. Pemimpin rombongan juga akan membawa semacam pohon yang terbuat dari bunga kertas. Di dalamnya juga terselip uang, biasanya pecahan dua ribuan. Uang ini akan diperebutkan oleh rombongan pihak laki-laki ataupun besan (perempuan).

 

Oiya, seminggu sebelum akad nikah, keluarga laki-laki biasanya mengundang para tetangga dan sanak saudaranya untuk ikut mengantarkan anak laki-laki mereka menikah di hari H. Acaranya namanya besanan. Bersamaan dengan itu, para tentangga dan kerabat dimintakan sumbangan, bisa berupa parsel atau roti buaya atau roti kepiring atau seprei. H-1 para tetangga dan sanak saudara akan membawakan sumbangannya ke rumah calon penganti pria.

Di hari H saat arak-arakan, barang-barang yang berasal dari para tetangga dan kerabat ini akan dibawa ke rumah calon mempelai wanita pada saat arak-arakan. Barang-barang ini dibawa bersamaan dengan mahar, uang belanja (uang untuk membeli seperangkat isi kamar pengantin: tempat tidur, lemari, meja rias, nakas), barang seserahan (meliputi: toileteries, pakaian dalam, baju tidur, mukena, Al-Quran, sepatu, handuk, tas, make up). Selain itu ada pula roti buaya, roti kepiting, dan kudangan. Semua barang ini hadiah untuk calon mempelai wanita dan pria ketika sudah berumah tangga nanti.

Roti buaya ini wajib ada saat pernikahan Betawi. Mengambil perilaku buaya yang hanya menikah sekali seumur hidup, hal ini dipercaya masyarakat Betawi secara turun-temurun. Harapannya pernikahan yang dilangsungkan juga akan terjadi sekali seumur hidup dengan dilandasi kesetiaan. Belakangan, selain roti buata juga ada roti kepiting yang mengantarkan calon mempelai pria ke rumah wanita.

Ada lagi yang  namanya kudangan. Kudangan ini berasal dari kayu atau bambu yang berbentuk perahu. Nantinya bisa dimodif, apakah tampak seperti perahu biasa atau dihias lagi sehingga bentuknya seperti perahu bebek. Kudangan ini berisikan bahan makanan pokok serta peralatan dapur yang meliputi: beberapa papan pete, ikan asin, sayur-mayur, kue dodol --resep dodol garut  dan khas betawi lainnya, dandang, panci, penggorengan, telor asin-sirih-ikan yang dihias. Berdasarkan informasi dari situs ini, kudangan harus dipenuhi laki-laki karena menyangkut keinginan isteri yang akan mengandung dan melahirkan anak dari laki-laki tersebut.

 

Palang Pintu

Palang pintu adalah seni bela diri betawi yang biasa dipakai di acara-acara budaya Betawi. Saat di acara pernikahan gini, begitu arak-arakan rombongan calon pengantin laki-laki sampai di lokasi akad atau rumah calon mempelai wanita, rombongan akan berhenti di depan rumah mempelai wanita. Di sana mereka sudah dihadang oleh para jawara dari calon mempelai wanita.

Sesi palang pintu ini akan dibuka dengan pernyataan maksud kedatangan rombongan laki-laki, yang kemudian berbalas-balasan pantun, dan adu silat. Pada saat sesi balas pantun ini biasanya gelak tawa akan mewarnai para hadirin di sana karena dikemas secara jenaka. Nah, giliran adu silat, ini serunya. Para jawara dari pihak wanita maupun laki-laki akan berantem menggunakan benda tajam, yakni golok. Peraturannya, jawara laki-laki harus berhasil mengalahkan jawara dari pihak perempuan. Tentunya semua ini sudah diatur secara skenario.

Jika jawara laki-laki sudah berhasil mengalah kan jawara pihak perempuan, maka rombongan calon pengantin laki-laki dipersilakan masuk ke ruangan dan melangsugnkan sesi akad nikah.

 

Akad Nikah

Prosesi pernikahan dalam adat Betawi memisahkan antara pihak mempelai lelaki dan wanita. Sedari arak-arakan hingga ijab qabul selesai, calon mempelai wanita berada di kamar. Jadi, begitu rombongan pria datang, masuk ke acara pembuka, sambutan dari pihak mempelai laki-laki yang dibalas dengan sambutan dari mempelai wanita. Dalam sambutan ini, perwakilan dari mempelai laki-laki merinci apa-apa saj ayang dibawa oleh rombongan, yang meliputi: mahar, uang belanja, parsel dan kudangan yang dibawa. Penyebutan nominal mahar wajib, lainnya tidak dirinci penyebutannya.

Acara pun dilanjut ke khutbah nikah dari kedua perwakilan calon pengantin laki-laki dan perempuan Selanjutnya masuk ke ijab qobul. Pada saat ijab qobul, orangtua perempuan boleh mewakilkannya kepada yang dianggap lebih terhormat, biasanya ulama setempat. Pada akhirnya, calon pengantin laki-laki akan berjabatan tangan dengan wakil orangtua perempuan.

Dihadapan para saksi dan syarat-syarat nikah dalam ajaran Islam, ijab qabul diucap. Sejak saat itu hubungan kedua insan tersebut sah secara agama dan hukum negara Indonesia. Setlah ijab qabul selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pembacaan janji suami. Selanjutnya, suami menjemput isterinya dan membawanya ke hadirin untuk menandatangani sejumlah dokumen pernikahan. Kekinian, salah seorang anggota dari pihak perempuan yang menjemput pengantin wanita. Setelah proses penandatanganan selesai, bisa dilanjutkan ke tausiah (ceramah pernikahan) atau salam-salaman kepada hadirin yang datang untuk meminta restu.

 

Sumber:

http://upacaraadatbetawi.blogspot.com/2013/01/pernikahan.html

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/20/ini-tradisi-pernikahan-ala-betawi-593522.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu