Ritual
Ritual
Adat daerah Jawa Timur Banyuwangi
Adat Endhog-Endhogan
- 13 Agustus 2018

Adat endhog-endhogan merupakan suatu acara tahunan yang diadakan di Banyuwangi, ketika bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap desa di Banyuwangi terutama desa-desa Using (suku khas Banyuwangi) berlomba-lomba memeriahkan acara ini. Adat ini dilakukan dengan beramai-ramai mengelilingi desa sambil membawa telur yang ditancapkan di pelepah pisang yang sudah kering dan diakhiri ketika sampai di masjid setempat.

 

Endhog artinya telur. Maka ketika bulan kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba, masyarakat setempat beramai-ramai merebus telur. Telur ini nantinya akan dimasukkan ke dalam plastik yang sudah dibentuk bermacam-macam. Ada bentuk kerucut, keranjang, serta kotak. Wadah ini nantinya akan dihiasi oleh kertas berwarna-warni. Kemudian, wadah ini diikatkan ke tusuk bambu dan kemudian tusuk bambu tersebut ditancapkan di pelepah pisang yang sudah mengering. Adapun nanti pelepah pisangnya juga akan dihias dengan kertas berwarna-warni. Maka tidak heran apabila adat endhog-endhogan sudah dimulai, masyarakat akan tersenyum dengan sendirinya ketika melihat indahnya telur dan pelepah yang sudah dihias sedemikian rupa.

 

Telur sendiri memiliki filosofi yang sangat dalam di adat ini. Lapisan yang membentuk telur terdiri dari 3 lapisan yaitu: cangkang telur, putih telur, dan kuning telur. Ketiga lapisan ini melambangkan iman, islam, dan ihsan, tiga hal pokok yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Adapun ditancapkan di sebuah pelepah pisang yang kering melambangkan saat itu ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam belum diutus menjadi Nabi, keadaan penduduk Makkah berada di fase jahiliyah. Keadaan ini dilambangkan dengan keringnya pelepah kurma. Maka dari itu, dihias dengan kertas yang berwarna-warni sebagai tanda indahnya iman setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus di Makkah. Adapun jumlah telur yang harus ditancapkan berbeda-beda dan memiliki arti tersendiri. Pilihannya adalah: 3,9,17,33, dan 99. Angka 3 melambangkan iman, islam, dan ihsan. Angka 9 melambangkan walisongo. Angka 17 melambangkan jumlah rakaat sholat yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Angka 33 melambangkan jumlah dzikir tasbih, tahmid, dan takbir yang dibaca setiap selesai sholat fardhu. Adapun angka 99 melambangkan asmaul husna (nama-nama Allah) yang berjumlah 99.

 

Selain dengan telur, masyarakat setempat juga sibuk membuat kue sebanyak-banyaknya. Karena ketika adat ini dilaksanakan, banyak masyarakat dari desa/kampung sebelah bersilaturahmi ke kampung sebelahnya juga. Maka dari itu adat ini juga mempererat tali silaturahmi masyarakat setempat. Namun sayangnya adat ini sudah mulai memudar di Banyuwangi, khususnya di kota. Banyaknya kendaraan serta tidak pahamnya masyarakat setempat akan adat ini merupakan salah satu faktor adat ini mulai memudar.

 

sumber gambar: https://asset.kompas.com/data/photo/2014/01/15/1510378DSCN09511780x390.jpg

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Pesan Induk Ti Kidung Lakbok
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Penulis: Gula Merah Kategori: Etika, Moral & Pepatah   PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup.   ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina nyaho tur ngahargaan ka asa...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA Kidung Lakbok Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. Sejarah dan Asal-Usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini. Rama...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu