Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Gorontalo Gorontalo
Abo' Mamongkuroit
- 13 November 2018

Pada waktu itu Abo' Mamongkuroit ini mendirikan sebuah rumah ditengah-tengah hutan. Abo' Mamongkuroit ini kawin dengan Buwa (putri) Monondeaga. Rumah tangga mereka sangat berbahagia. Mereka saling harga menghargai satu dengan yang lain. Berapa lama berselang dari pergaulan mereka, pada suatu hari Abo' Mamongkuroit memanggil istrinya lalu berkata, "Jika sekiranya diijinkan baiklah aku pergi merantau untuk mencari nafkah bagi kita berdua. Tidak lama aku bepergian."

sumber gambar : dongengceritarakyat.com
Istrinya menjawab, "Terserah kepadamu, jika ingin merantau aku tidak melarangmu, rela hatiku asalkan jangan terlalu lama." Sesudah itu suaminya bergegas-gegas lalu disuruhnya membuatkan bekal ketupat dan telur ayam rebus.

Belum berapa lama kemudian suaminya berangkat dari rumahnya, datanglah si Tulap. Melihat si Tulap datang istrinya takut. Tetapi si Tulap melihat ia takut berkatalah ia, "Jangan takut padaku karena aku tidak memakanmu."

"Bagaimana caraku agar supaya aku tidak dibawa oleh si Tulap." Pikir putri itu. Pada waktu yang bersamaan si Tulap mengatakan bahwa putri itu akan didukung dan dibawa ke rumahnya. Tetapi putri itu berkata, "Hari ini jangan dulu aku dibawa ke rumahmu sebab aku akan mencuci rambut dulu. Alangkah baiknya besok sore saja baru engkau datang ambil padaku ditempat ini. Mendengar perkataan demikian si Tulap pulang lagi, dan putri itu masuk ke rumahnya. Malam itu putri berpikir, bagaimana lagi caranya memperdaya supaya besok ia belum dibawa oleh si Tulap. Sampai kesiangan ia tak tidur karena memikirkan nasibnya.

Keesokan harinya waktu petang, datanglah si Tulap untuk mengambil putri Monondeaga yang akan dibawanya ke rumahnya tempat tinggalnya. "Bagaimana akalku lagi supaya belum dibawa oleh si Tulap," kata putri itu dalam hatinya. Setibanya si Tulap di tempat itu, ia berkata kepada putri itu, "Kini aku telah datang untuk mendukungmu dan membawamu ke rumahku sesuai dengan janjimu kemarin."

Putri menyahut, "Hari ini jangan dulu aku dibawa ke rumahmu, karena aku belum mandi. Baiklah nanti besok karena kini hari sudah hampir malam. "Mendengar ucapan itu si Tulap kemudian pulang ke rumahnya. Putri itu membuat siasat demikian agar supaya sambil menunggu suaminya kembali dari perantauan. Tetapi sampai sekarang itu suaminya belum juga muncul-muncul.

Keesokan harinya datang lagi si Tulap, menepati janji putri itu, dan berkata, "Kini aku sudah datang kembali untuk menjemputmu. Marilah karena telah tiga hari aku datang mengambil padamu tetapi engkau selalu menundanya". Putri itu tak dapat akal lagi untuk menghindari agar supaya tidak dibawa oleh si Tulap.

"Tunggulah," kata putri "Sementara ini aku menyisir rambutku dan mengenakan baju yang bagus dan menghias diriku. selesai menghias dirinya, Buwa' Monondeaga keluar dari rumahnya lalu didukung oleh Tulap dan dibawa ke rumahnya. Setibanya di rumahnya, terus dimasukkan ke dalam kandang besi di bawa kolong rumahnya.

Putri tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat oleh Tulap terhadap dirinya. Ia berpikir dalam hatinya, "Mungkin aku ini akan dibunuh atau dimakan oleh si Tulap karena langsung dikurungnya dalam kandang besi. Suamiku tidak mengetahui dimana aku berada." Putri ini bertambah takut dan hilang semangatnya serta berdebar-debar jantungnya.


Seminggu berselang, kembalilah Abo' Mamongkuroit turun dari perantauan. Setibanya di rumahnya, ia melihat rumahnya sunyi dan istrinya tidak ada di dalam rumah. Sedih sekali hatinya karena hanya dialah satu-satunya yang mempunyai rumah ditengah-tengah hutan. Ia berpikir, "Karena istriku ini telah dilarikan oleh iblis dan tidak ada yang melihatnya. Ataukah baru pergi ke sungai lalu hanyut?"

Kemudian ia mencarinya di sekitar rumahnya, tetapi tidak juga nampak istrinya yang tersayang itu. Karena tidak ada disekitarnya maka ia lalu menyediakan bekal dan keluar mencari istrinya. Dalam hatinya berkata bahwa, seandainya dia belum menemukan istrinya dia tidak akan kembali ke rumahnya. Dia baru akan kembali jika istrinya telah ditemukannya.

Kini berangkatlah ia pergi mencarinya. Tidak berapa lama ia berjalan, tibalah ia pada suatu perkampungan. Di sini ia bertanya tentang istrinya yang hilang.

"Hai orang kampung.......... tidaklah lewat di sini Buwa Monondeanga, istriku?"

Mereka menjawab, "Kami tidak melihat "Buwa Monondeaga" Dari situ Abo' Mamongkuroit melanjutkan perjalanan, tidak lama kemudian tibalah pada kampung yang kedua. Di situ ia bertanya pula tentang istrinya yang hilang.

"Hai orang kampung........ tidak lewat disinikah Buwa Monondeaga istriku.....?"

Mendengar pertanyaan itu mereka menjawab. "Ada lewat tadi di dukung oleh si Tulap."

Kemudian ia meneruskan perjalanan, tibalah ia  pada suatu kampung dan bertanya lagi katanya, 

Hai orang kampung...... tidak lewat disinikah Buwa' Monondeaga, istriku.....?"

Mendengar itu mereka menjawab, "Hai Abo' Mamongkuroit, tadi si buwa' (puteri) melewat di sini bermandikan peluh. Dimasukkan oleh Tulap ke dalam bungkusan yang didukungnya." Dari situ ia meneruskan perjalanan, walaupun sudah letih ia berjalan terus juga. Tidak berapa lama, tibalah ia pada sebuah rumah yang besar.

Terus ia naik ke rumah itu, sebab ia melihat istrinya berada di bawah kolong rumah dan dalam kandang besi. Bangkitlah marahnya tetapi diusahakannya supaya tidak tampak oleh si Tulap. Setelah Tulap melihat wajahnya, segera ia menegur, "Hai Abo' Mamongkuroit datang!"

Abo' Mamongkuroit menjawab, "Ya, saya datang bertemu" Tulap berkata. "Jangan dahulu lekas-lekas pulang, karena aku mau layani dengan air panas (kopi), nanti selesai minum barulah engkau pulang ke rumahmu."

Sesudah itu Tulap mengajak Abo' Mamongkuroit, "Marilah kita turun ke tanah untuk membuat ketamaian, adu betis!" Jawab Abo' Mamongkuroit, "Baiklah, aku yang pertama bersiap menerima serangan, sudah itu baharu ayah (Tulap) yang aku serang."

Selesai berkata demikian turunlah keduanya ke tanah. Kini Abo' Mamongkuroit menunggu pukulan (adu betis). Begitu Abo' Mamongkuroit menunggu, begitu serangan si Tulap. Abo' Mamongkuroit yang menahan serangan tidak terasa sedikit pun sakitnya, sebaliknya si Tulap yang menyerang, dialah yang terpelanting sejauh-jauhnya.

Kata Abo' Mamongkuroit, "Ternyata aku yang lebih kuat ayah, karena aku tidak terpelanting."

Sesudah itu si Tulap yang menunggu pukulan dari Abo' Mamongkuroit  Begitu kena serangan begitu pula si Tulap terlempar terpelanting ke angkasa hingga puncak pohon yang tinggi, menggelepar-gelepar lalu  mati. Melihat itu istri si Tulap turun membawa pisau untuk membantu suaminya. Begitu ia mendekati Abo' Mamongkuroit, begitu ia mendapat pukulan. Tidak diketahui dimana terlempar badan tangan dan kaki istrinya. Hanya kepala yang tinggal terletak di tanah dan matanya melotot keluar.

Abo' Mamongkuroit yang masih berada di dalam kurungan, segera dikeluarkan. Setelah Tulap dan istrinya mati, naiklah pula ia ke dalam rumah dan tampak olehnya manusia tahanan banyak sekali, yakni sisa-sisa dari mereka yang telah dimakan lebih dahulu. Puteri Momondeaga istri Abo' Mamongkuroit yang masih berada di dalam kurungan, segera dikeluarkan. Semua orang yang dikurung dilepaskan, lalu ia berkata, "Pulanglah kamu sekalian ke kampung masing-masing, jangan lagi takut/khawatir akan Tulap dan istrinya pemakan orang itu, karena aku telah menamatkan riwayatnya. Pulanglah kamu sekalian berkebun supaya kita semua tidak mati kelaparan."

Setelah itu masing-masing pulang ke tempatnya dengan perasaan gembira. Istri dari Abo' Mamongkuroit pun kini telah dibawa pulang ke rumahnya.

Sumber:

http://alkisahrakyat.blogspot.com/2015/11/cerita-abo-mamongkuroit-cerita-rakyat.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu