Dayak Lawangan / Luwangan adalah salah satu suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah. Dipercaya Dayak Lawangan adalah induk dari Sub Suku Dayak Kelompok Barito – seperti Bentian, Benuaq, Paser, Maanyan, Tabooyang, Deah, Tunjung, Bawo dan Kutai. Menurut situs “Joshua Project” suku Lawangan saat ini hanya berjumlah 109.000 jiwa.
Seperti hampir semua Suku Dayak di Kalimantan, padi dianggap sebagai suatu yang bersifat ilahiah dan sangat berharga. Orang Dayak Luawang percaya padi berasal dari alam dewa-dewi.
Konon sebelum manusia mengenal padi, manusia hanya makan dari hasil berburu dan hasil hutan saja. Pada suatu hari ada seorang manusia pergi berkunjung ke tempat tinggal para dewa. Di alam dewa itu ia melihat berbagai jenis tanaman padi yang sedang menguning dan berisi. Dalam kunjungan itu, manusia tadi dijamu makan oleh para dewa, ia menikmati makanan para dewa yang berasal dari padi tadi. Ketika manusia itu memakan makanan tersebut ia merasa bahwa makanan itu sangat nikmat dan menyegarkan tubuhnya.
Sesudah menikmati makanan tadi, ia memohon kepada para dewa supaya diberikan segalam macam jenis bibit padi tadi untuk ditanamkan dibumi, namun sayang sekali permohonan itu ditolak oleh para dewa, karena makanan yang terbuat dari beras hanya layak dimakan oleh para dewa saja. Maka pulanglah manusia itu tadi dengan tangan hampa. Namun ia berniat untuk kembali ke alam dewa dan mencuri sebanyak mungkin jenis bibit padi.
Benar saja beberapa waktu kemudian, ia kembali berkunjung ke alam dewa dewi, dengan diam-diam ia mencuri padi. Dia berusaha membawa jenis-jenis padi sebanyak mungkin. Namun ternyata usahanya ini diketahui oleh pada dewata, ia kemudian ditangkap dan semua padi curiannya diambil kembali. Lalu manusia tadi diusir kembali ke bumi – namun mereka tidak mengetahui bahwa ia berhasil menyembunyikan 2 butir padi didalam lubang pusatnya yang tertutup oleh pakaiannya.
Sesampainya dibumi, ia kemudian menanam 2 benih padi yang diperolehnya tadi, padi itu kemudian langsung tumbuh dan berbuah. Para dewa terkejut mengetahui hal itu, tetapi padi yang sudah terlanjur tumbuh itu tidak mungkin untuk dibawa kembali ke alam dewata, maka para dewa sepakat membiarkan padi itu untuk tumbuh menjadi bahan makanan manusia. Namun manusia diharuskan “membagi” hasil usaha tanaman padinya itu kepada para dewa. Dua butir tadilah yang menjadi induk moyang segala jenis macam padi dan padi ketan didunia ini.
Pemberian bagian untuk para dewa dari hasil usaha berladang ini dilakukan dengan memberikan sesajian berupa nasi dan lauk pauk serta makanan lain yang biasany dibuat dari bahan beras atau beras ketan. Sesajian itu yang ditaruh itu baru boleh dimakan manusia apabila sudah satu malam berselang, mereka percaya pada malam hari pada dewa telah mengambil bagiannya, sehingga makanan yang tersisa dalam bentuk sajian itu menjadi “hambar” karena telah kehilangan maknanya sebagai sesuatu yang menyegarkan tubuh.
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2015/11/11/asal-asul-padi-menurut-dayak-lawangan/
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...