Angklung Pemersatu Bangsa
Angklung adalah alat musik yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan. Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Angklung khas Jawa barat ini juga telah membawa nama Indonesia dikancah Internasional. Banyak pertunjukkan angklung dipentaskan di berbagai Negara. Angklung menjadi salah satu alat music asal Indonesia yang banyak menarik perhatian dunia Internasional.
Namun,ini juga bisa berdampak buruk pada Indonesia. Tak sedikit yang mencemari bahkan merebut budaya bangsa kita ini. Ini menjadi tantangan juga ancaman tersendiri bagi kesatuan bangsa Indonesia. Salah satu ancaman terhadap budaya angklung ini yaitu Malaysia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman dahulu Indonesia dan Malaysia merupakan satu wilayah yang sama. Seiring berkembangnya zaman,Indonesia dan Malaysia menjadi Negara yang berdiri sendiri. Namun persamaan wilayah inilah yang membuat Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan dalam budaya dan adat. Namun seakan menjadi masalah yang berlarut-larut, Malaysia selalu berusaha merebut juga mengakui budaya-budaya bangsa ini. Salah satunya yaitu Angklung. Angklung sejak awal sudah dipatenkan sebagai alat musik yang berasal dari Indonesia. Tetapi Malaysia selalu mengakui Angklung sebagai budayanya.
Hanya menggerutu dan tidak melakukan apapun hanya akan membuat mereka jauh lebih leluasa mengambil budaya-budaya Indonesia. Ada banyak upaya yang bisa kita lakukan demi melestarikan juga menjaga budaya Indonesia dari berbagai ancaman. Misalnya, melalui angklung. Kita dapat melestarikan angklung dengan terus mempelajari dan membuat angklung semakin diketahui sebagai budaya bangsa Indonesia. Laporkan segala bentuk ancaman terhadap bangsa ini. Kita harus bersatu untuk menciptakan keselarasan tujuan dalam melindungi budaya bangsa Indonesia. Kita tidak bisa begitu saja membiarkan orang lain mengakui budaya kita. Mari kita jadikan angklung salah satu dari berbagai cara untuk mempersatukan bangsa. Melalui segala bentuk ancaman dan konflik hak paten terhadap angklung,diharapkan masyarakat di seluruh Indonesia bisa menjadi satu.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara