Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Jawa Timur
7_ Keris Weling Putih
- 20 Mei 2018

Sang Prabu Erlangga kebingungan, sejak tadi ia berjalan mondar-mandir di ruangannya. Patih Narottama yang berdiri di dekatnya, juga tampak terlihat kebingungan. Kerajaan Kahuripan saat ini tengah diserang penyakit aneh, Penyakit itu banyak sekali memakan korban jiwa baik dari masyarakat umum maupun keluarga pejabat dan keluarga kerajaan. Ternyata, penyakit itu disebarkan oleh seorang wanita penyihir yang sangat kejam dan sakti. Namanya Serat Asih, tapi ia lebih dikenal dengan nama Colon Arang. Ia tinggal di Desa Girah.

Karena khawatir penyakit itu akan semakin meluas, Raja Erlangga mengutus Patih Narottama untuk menangkap Colon Arang. Setelah menerima perintah tersebut, Patih Narottama mengumpulkan para prajurit pilihannya. "Wahai, para prajuritku. Mari kita berangkat ke Desa Girah untuk menangkap wanita penyihir itu," perintah Patih Narottama.

Mereka kemudian memulai perjalanan ke Desa Girah, menuju tempat tinggal Colon Arang.

Colon Arang terkejut melihat kedatangan para prajurit kerajaan. Ia segera mengumpulkan empat murid terbaiknya yang bernama Supala, Guritna, Datyeng, don Pitrah untuk melawan mereka. Pertempuran sengit pun tak terelakkan. Colon Arang berhadapan sendiri dengan Patih Narottama.

"Ha... ha... ha... pria tua sepertimu mana bisa mengalahkan aku," ejek Colon Arang. Hati Patih Narottama panas mendengar ejekan itu. Ia segera menghunus pedangnya dan menebas leher Colon Arang hingga putus.

Namun kejadian aneh terjadi! Setiap kali kepala Colon Arang putus terkena tebasan pedang Patih Narottama, kepala itu dengan mudah bersatu kembali ke tubuhnya. Calon Arang terus tertawa mengejek, semakin lama suara tawanya semakin mengerikan.

Patih Narottama menarik mundur pasukannya. Ia sadar, mereka tak mungkin mengalahkan Colon Arang saat itu juga. Ia pun menghadap Raja Erlangga dan menceritakan apa yang terjadi. "Hmm... pasti ia punya rahasia. Tidak mungkin ia tak bisa dikalahkan, tapi kita harus tahu apa rahasia kesaktiannya," gumam Raja Erlangga.

"Mungkin sebaiknya kita minta pendapat Empu Bharada? Ia adalah adik ipar Colon Arang, barangkali ia tahu apa yang harus kita lakukan," jawab Patih Narottama.

Empu Bharada dipanggil ke istana. Setelah Raja Erlangga dan Patih Narottama menceritakan masalah yang mereka hadapi, ia berpikir dengan keras. "Baiklah Baginda, hamba akan mencari jalan keluarnya. Semoga kali ini kita berhasil mengalahkannya," kata Empu Bharada.

Empu Bharada kembali ke rumahnya dan memanggil muridnya yang bernama Bahula. "Bahula, Baginda memintaku untuk mencaritahu rahasia Colon Arang. Karena itu, aku memerlukan bantuanmu," katanya pada Bahula. "Jika ini untuk kepentingan rakyat, saya bersedia membantu Empu. Bagaimana caranya?" jawab Bahula.

Empu Bharada meminta Bahula menikahi anak perempuan Colon Arang yang bernama Ratna Manggali. "Jika kau menikah dengannya, kau akan mudah melaksanakan tugas ini. Aku tahu semua rahasia Colon Arang ada di kitab pusakanya. Carilah kitab itu dan berikan padaku," jelas Empu Bharada.

Awalnya Bahula tampak ragu, ia memikirkan kekasihnya Wedawati, yang tak lain adalah anak perempuan Empu Bharada.

Empu Bharada mengetahui kegundahan hati Bahula. "Jangan khawatir, Wedawati tak akan tahu. Aku memintamu melakukan ini demi keselamatan rakyat kita," tegas Empu Bharada. Bahula pun mengangguk setuju.

Bahula segera melakukan perjalanan ke Desa Girah. Di sana, ia segera mencari rumah Colon Arang dan menyatakan maksudnya untuk menikahi Ratna Manggali. Melihat paras Bahula yang tampan serta tingkah lakunya yang sopan, Colon Arang pun menerima lamarannya. Ia ingin membuat pesta pernikahan yang meriah untuk Ratna Manggali dan Bahula.

Setelah resmi menjadi suami-istri, pengantin baru itu tinggal di rumah mertuanya.

Pada suatu malam, Bahula melaksanakan tugasnya. Setelah yakin keadaan aman, ia mengendap-endap memasuki kamar Calon Arang. Begitu membuka lemari, matanya terpaku pada sebuah kotak kayu berwarna cokelat.

"Pasti ia menyimpan kitab pusakanya disini," bisiknya dalam hati.

Bahula segera mengambil kotak kayu itu dan meninggalkan rumah. Ia Iari di kegelapan malam, menuju rumah Empu Bharada, gurunya.

Keesokan harinya, Colon Arang terkejut bukan main melihat kotak kayunya telah raib. Ia mencari Bahula, tapi tak ditemukannya. Ia berprasangka, pasti Bahula yang mencuri kotak kayu itu. Sementara itu, Bahula telah mengerahkan kotak kayu itu pada Empu Bharada. Empu Bharada segera membukanya dan mencari kitab pusaka. "Ah, ini dia. Semua rahasia kekuatan sihir Colon Arang pasti ada pada kitab ini," teriak Empu Bharada senang. Ia langsung mempelajari isi kitab itu dengan saksama. Bahula menunggu dengan sabar.

"Bahula, menurut kitab ini, Calon Arang hanga dapat dikalahkan dengan Keris Weling Putih," kata Empu Bharada. "Bukankah keris itu milik Empu sendiri?" tanya Bahula bingung. Sambil tersengum, Empu Bharada menjawab "Ya, kau benar. Berarti aku bisa membunuh Calon Arang dengan mudah.

Empu Bharada mengambil keris Weling Putihnga, dan bersiap-siap mengadakan perjalanan ke Desa Girah. Bahula mengikutinga dengan setia. Di sana, Calon Arang rupanga sudah menunggu Bahula.

"Bahula, segera kembalikan kitab pusakaku yang kau curi! Berani sekali kau menipuku dan putriku, rasakan pembalasanku!" kata Colon Arang sambil menyerang Bahula.

Bahula berkelit, Empu Bharada segera menghadang langkah Colon Arang. "Kong Ayu, kau telah menyusahkan seluruh rakyat Kahuripan. Raja telah memerintahkan kami untuk membunuhmu supaya pengaruh sihirmu lenyap untuk selama-lamanya," kata Empu Bharada.

"Ha... ha... kau hendak melawan kakak iparmu sendiri? Silakan saja jika kau mampu," jawab Colon Arang. Dengan cepat ia menyerang Empu Bharada, namun Empu Bharada tak kalah sigap. Keris Weling Putih dicabutnya dari pinggangnya untuk menangkis serangan sihir Colon Arang.

Colon Arang terkejut melihat keris itu. "Ampun Dimas, jangan kau bunuh aku dengan keris itu," teriaknya mengiba.

"Kong Ayu, maafkan aku. Aku harus membunuhmu, jika tidak, rakyat akan semakin menderita," jawab Empu Bharada sambil menghujamkan keris itu ke tubuh Colon Arang. Colon Arang meninggal seketika. Saat itu juga, segala penyakit yang menyerang rakyat Kerajaan Kahuripan lenyap tak berbekas. Rakyat kembali hidup berbahagia dan aman sentosa.

Pesan moral: Keris Weling Putih untukmu adalah Kejahatan akan selalu menuai hukuman. Jadi, lakukanlah kebaikan pada teman dan orangtuamu. Kemampuan yang kita miliki hendaknya digunakan untuk kebaikan dan menolong sesama.

 

 

 

Referensi:

  1. Dongeng Cerita Rakyat (http://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-jawa-timur-keris-weling-putih/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker