Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Utara Sumatera Utara
5_GURU PENAWAR KANDIBATA (Guru Petawar Reme) Di Tanah Karo
- 20 Mei 2018


Di Tanah Karo Sumatera Utara terdapat satu kampung yang bernama Kandibata. Dahulu kampung tersebut dikenal oleh semua orang dari segala penjuru karena di kampung tersebut hidup seorang Guru Mbelin (Dukun Sakti) bernama Guru Kandibata. Ia beristrikan seorang Guru Mbelin juga yang menghasilkan dua keturunan yaitu Beru Tandang Karo dan Beru Tandang Meriah.

 Kesaktian Guru Kandibata tersebut tersiar hingga ke negeri – negeri di luar Tanah Karo Simalem. Beliau bisa meramal hari (Niktik Wari), mengobati segala sakit penyakit, bahkan menghidupkan kembali orang mati, asal jenazah orang tersebut masih utuh dan belum mencapai 4 hari kematian.

Pada suatu hari, timbullah penyakit cacar yang menjangkiti Tanah Alas di daerah Aceh. Penyakit yang mewabah tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit, sehingga timbullah kepanikan yang luar biasa. Keresahan rakyat Tanah Alas menyebabkan Raja Alas menjadi was – was. Raja Alas adalah seorang Raja yang kekayaan beliau tiada terhingga. Dengan uang dan upah yang tidak terbatas, beliau menyuruh para pengikut beliau untuk mendatangkan tabib dan dukun dari seluruh penjuru negeri. Namun tidak ada satu pun yang berhasil mengobati wabah tersebut. Hingga pada suatu hari, beliau mengutus orang kepercayaan untuk meminta pertolongan Guru Kandibata yang tersohor kesaktiannya dari negeri sebelah. Raja Alas bahkan bersedia memenuhi segala permintaan Guru Kandibata apabila beliau bersedia dating ke Tanah Alas dan mengobati wabah cacar tersebut. Tertarik dengan harta kekayaan yang dijanjikan oleh sang utusan Raja Alas, dengan cepat Guru Kandibata menyanggupi. Dia kemudian mempersiapkan perbekalan dan stok obat – obatan secukupnya dan mengajak sang istri untuk turut serta menemani selama di Tanah Alas. “Baiklah kalau begitu. Saya akan datang ke Tanah Alas beserta istri saya,” ujar Sang Guru Mbelin Kandibata.

Ketika segala sesuatu telah dipersiapkan dengan matang, tiba – tiba sang istri  berkata “Lebih baik kita tidak usah pergi ke Tanah Alas.” “Mengapakah?” ujar Guru Kandibata dengan heran melihat reaksi istri yang tidak biasa. “Aku khawatir apabila kita pergi ke sana, penyakit itu akan datang kemari dan akan menjangkiti kedua anak kita,” sahut sang istri. “Kam tidak usah khawatir. Seandainya pun kedua anak kita tertular penyakit itu, aku pasti bisa menyembuhkan keduanya dengan muda. Bahkan apabila mereka sampai mati akibat wabah cacar itu, aku dapat menghidupkan kembali keduanya dengan mudah!” ujar Guru Kandibata. Setelah melihat ketetapan hati dan mempertimbangkan secara matang nasehat suaminya, bersedialah sang istri berangkat mendampingi Guru Kandibata. Akan tetapi ternyata kedua anak Guru Kandibata menjadi kecewa dan sedih melihat kepergian kedua orang tua mereka.
Melihat dampak wabah penyakit cacar yang luar biasa di Tanah Alas, Guru Kandibata pun memperpanjang kunjungannya. Ia mengobati pasien didampingi sang istri siang dan malam, tiada henti. Keberadaan Guru Kandibata menjadi semacam obat harapan bagi warga Tanah Alas untuk terbebas dari penyakit cacar yang mewabah secara dasyat. Akan tetapi, ternyata waktu juga yang mendatangkan wabah cacar ke Tanah Karo, hingga ke desa Kandibata. Kedua anak Guru Kandibata yang tinggal di kampung tidak luput terkena wabah cacar tersebut. Dari hari ke hari, penyakit mereka bertambah parah hingga keluarga memutuskan untuk memberi kabar kabar ke Tanah Alas. Utusan yang menjumpai Guru Kandibata bersikeras agar beliau dan istri dapat segera pulang untuk mengobati buah hatinya tersebut. “Aku belum bisa pulang sekarang. Tidak kalian lihat seberapa parah penyakit itu sudah mewabah daerah ini? Kalian tidak usah khawatir, bagaimana pun parahnya penyakit kedua anakku nanti, aku pasti bisa menyembuhkannya. “Tapi Bang, penyakit mereka sudah sangat parah. Kami khawatir mereka akan mati!” ujar utusan itu setengah memaksa. “Kalau pun anak – anak ku itu mati, aku pasti bisa menghidupkan mereka kembali, janganlah khawatir. Nah, terimalah uang ini dan pulang kalian segera ke Kandi Bata,” ujar sang Guru sembari memberi uang yang banyak kepada sanak keluarganya. Tanpa basa – basi utusan tersebut kemudian pulang kampung dengan penuh kekecewaan.

Tak lama berselang, datang lagi utusan dari kampung meminta kesediaan Guru Kandibata pulang dan mengobati kedua anak gadis beliau yang sakit parah. Keadaan mereka sudah sangat parah sehingga keluarga takut bahwa mereka akan “pergi” kapan saja. Kekhawatiran mereka sudah memuncak. “Aku belum bisa pulang sekarang. Tidak kah kalian lihat masih banyak orang yang harus aku tolong?” ujar sang Guru. “Tapi Guru, keadaan mereka sudah sangat parah. Kami tidak yakin lagi mereka masih sanggup bertahan. Sebaiknya Guru pulang dahulu untuk mengobati mereka,” ujar sang utusan. “Nah terima uang yang banyak ini. Pulanglah kalian ke Kandi Bata secepatnya. Apabila meninggal kedua anak gadisku tadi, kuburkanlah mereka dengan upacara yang layak, gunakan saja uang ini. Kemudian secepatnya lagi kalian beritahu aku tentang kematian mereka. Biar bisa aku pulang dan menghidupkan kembali kedua buah hati ku itu.” Kata Guru Kandibata. Dengan berat hati, mereka menerima uang dalam jumlah yang melimpah dan pulang kembali ke Kandi Bata untuk melaksanakan perintah sang Guru. Sebenarnya Guru Kandibata tidak mau pulang karena dia memperoleh keuntungan yang sangat banyak dari Raja Alas. Sayang rasa beliau apabila keuntungan yang luar biasa melimpah ini dihentikan begitu saja. Ia pun yakin bahwasa beliau mampu menghidupkan kembali kedua anak beliau sekalipun telah meninggal.

Tidak lama kemudian meninggal kedua anak Guru Kandibata. Mereka merasa sangat sedih karena tidak meras diperhatikan kedua orang tua mereka yang sibuk mencari uang di tanah seberang. Meski sudah berkali kali mengutus sanak – saudara untuk membujuk orang tua mereka. Bahkan mereka suda merunggukan agar memaksa kedua orang tua mereka pulang. Segala cara dicoba tetapi tidak menghasilkan apa pun. Setelah mereka dikebumikan, roh mereka yang meninggal secara tidak tenang menangis tersedu – sedu. Tangisan mereka yang indah luar biasa ini kemudian di dengar oleh Keramat Nini Deleng (Gunung) Sibayak. Beliau mengutus salah satu suruhan untuk menanyakan sebab tangisan kedua roh gadis tersebut. Ketika sang pesuruh menanyakan hal tersebut, kedua roh gadis itu serempak menjawab “Pada waktu kami meninggal dunia, kedua orang tua kami tidak bersedia pulang dan menjenguk kami dari tanah rantau. Mereka sudah dikuasai nafsu serakah hanya untuk mengumpulkan uang. Tega sekali mereka meninggalkan kami begitu saja.” Rintihan syahdu yang dikenal orang Karo sebagai nuri – nuri itu, kemudian disampaikan si pesuruh kepada majikannya. Melalui si pesuruh, Nini Deleng Sibayak mengundang kedua gadis tersebut agar bertandang ke rumah beliau di suatu tempat lereng Gunung Sibayak. Beliau menjamu kedua roh gadis yang sedang sedih itu dengan tangan terbuka. Beliau juga memerintahkan agar si pesuruh menyembunyikan tulang – belulang kedua gadis tersebut agar tidak mampu dibangkitkan kembali oleh Guru Kandibata.

Di negeri seberang, Guru Kandibata merasa puas dengan keuntungan yang beliau peroleh dari Raja dan rakyat Tanah Alas. Setelah mengabdi sekian lama, beliau bermaksud untuk pulang ke kampung halaman. Setelah diadakan pesta yang meriah, tibalah saatnya Guru Kandibata beserta istri mengucap pamit dan memulai perjalanan ke kampung. Setiba di Kandi Bata, mereka langsung menuju makam kedua anak mereka yang masih mendendangkan turi – turiin. Roh kedua gadis tadi menangis tersedu – sedu menyesali kedatangan orang tua mereka yang terlambat menjenguk mereka. Sang Istri Guru yang merasa sedih menyatakan penyesalan beliau dan berjanji akan menghidupkan mereka kembali sebelum tulang – tulang keduanya hancur digerus tanah. Sewaktu makam digali, tidak ditemukan tulang – belulang kedua anaknya, sehingga panik semua orang di kampung. Tapi bukan Guru Mbelin Kandibata apabila hanya berputus asa. Beliau mencari jejak roh kedua anaknya dan mendapati jejak mistis mengarah ke Gunung Sibayak. Mengerahkan segenap kemapuan saktinya, Guru Kandibata menyusuri jejak mistis tersebut dan mendapati roh kedua anaknya sedang menangis tersedu – sedu. Melalui sebuah tenda yang mampu menampilkan citra kedua anak beliau, Guru Kandibata berusaha berkomunikasi dengan anak – anaknya. Akan tetapi upacara yang dikenal dengan “Raleng Tendi” tersebut mempunyai sebuah pantangan, bahwa hanya roh yang bisa masuk ke dalam tenda tersebut. Roh akan hilang apabila seseorang mencoba memasuki tenda. Saking histeris, istri Guru Kandibata yang tidak mampu menyembunyikan rasa rindu, mencoba merangsek masuk ke dalam tenda. Akibatnya, terputuslah komunikasi di antara mereka. Baru Tandang Karo dan Beru Tandang Meriah yang kecewa akibat aksi sembrono kedua orang tua mereka, kemudian langsung berlari kembali ke kediaman Nini Deleng Sibayak dan bersembunyi untuk selamanya. Ada kalanya, suara tangis kedua anak Guru Mbelin Kandibata terbawa angin sehingga dapat di dengar oleh para pendaki Gunung Sibayak.

Sumber: http://andiko21karonese.blogspot.co.id/2017/05/di-tanah-karo-sumatera-utara-terdapat.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu