Dulu kala pohon jati kecil-kecil. Kata nenek, batang pohon jati hanya sebesar lengan manusia. Sudah barang tentu kayunya tidak dapat dijadikan dandanan rumah. Tetapi lambat-laun pohon jati berubah menjadi besar-besar. Dongengnya demikian.
Pada jaman dulu di Medang Kamulan, bekas kerajaan Dewata cengkar, hiduplah seorang raja yang sangat kaya. Permaisurinya cantik sekali. Tetapi baginda sangat bersedih hati, karena usia baginda sudah lanjut dan belum berputera. Kelak kalau baginda wafat, siapakah gerangan yang akan menggantikannya? Kemudian baginda lalu bertapa, memohon kepada dewata agar dikaruniai seorang putera. Sungguh ajaib! Permohonannya terkabul. Tidak lama kemudian sang permaisuri hamil. Baginda merasa sangat berbahagia. Maka diadakanlah pesta bersenang-senang empat puluh hari empat puluh malam lama nya.
Setelah sembilan bulan lalu, sang permaisuripun melahirkan seorang putera. Tetapi alangkah malunya sang Prabu, karena puteranya tidak berupa manusia, melainkan berupa seekor bina tang kijang. Segera bayi kijang itu dikubur hidup-hidup secara diam-diam. Setelah itu baginda pun kembali ke keraton. Tetapi sampai di kerato, baginda jatuh sakit, yaitu bengkak. Terpaksalah baginda tidak dapat pergi ke mana-mana.
Setelah itu Sang Prabu memanggil salah seorang hamba kesa yangannya bernama Sulang. Maka bersabdalah baginda : ”Sulang! Kemarilah kau. Kuberitahukan kepadamu, Sulang, bahwa gustimu sang permaisuri telah melahirkan putera, tetapi tidak berupa bayi manusia, melainkan seekor anak kijang. Karena malu, maka ku kubur hidup-hidup anak kijang itu. Tetapi, Sulang, jangan sekali sekali rahasiaku ini kau katakan kepada siapapun. Kalau kau melanggarnya, kepalamu akan kusuruh penggal.”
Sesudah bersabda demikian, maka baginda pun kembali ke keraton. Sahdan, setelah menerima sabda baginda, Sulang mendadak sakit dan badannya bengkak. Sekujur badannya terasa sakit. Ia ingin mencari obat, tetapi tak tahu ia kemana harus mencarinya seorang dukun yang pandai.
Lambat-laun ia pun berpikir. Baginda menjadi sembuh, karena baginda telah memberitahukan peristiwa yang menimpa baginda kepada orang lain. Tetapi ia takut memberitahukan halnya kepada orang lain. Ia takut kepalanya akan dipenggal.
Sulang tidak kehabisan akal. Dengan jalan berkesot, ia pun pergi ke hutan. Di situ ia mendekati sebuah pohon jati, lalu berka ta : ”Hai pohon jati, ketahuilah, bahwa permaisuri telah melahir kan putera baginda berupa anak kijang dan baginda telah mengu burnya hidup-hidup.”
Setelah berkata demikian, maka tiba-tiba sakit Sulang sembuh Seketika. Tetapi pohon jati, yang semula batangnya sebesar lengan, mendadak membengkak menjadi besar sekali. Sejak itulah pohon jati berubah menjadi besar-besar.
Salah sebuah pohon jati ditebang orang untuk dibikin sebuah bedug. Bedug jadi dan ditabuh. Aneh. Bunyinya demikian : ” ...... dang ...... dang ...... dang ...... dang...... raja Medang berpu tera kijang, dikubur hidup-hidup, disampaikan kepada Sulang...... dang ...... dang ...... dang. (2 X).
Sejak itu pula rakyat seluruh negeri telah mendengar berita, bahwa Sang Prabu telah berputera seekor anak kijang. Benar tidaknya, terserah.
Sumber: https://play.google.com/books/reader?id=gJkACwAAQBAJ&pg=GBS.PA39
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara