Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Arsitektur Bali Jl Kintamani
3 - Pura Pagulingan
- 17 Mei 2018
Banyak sekali terdapat pura di Bali. Tujuan didirikannya pura-pura tersebut pada awalnya sebagai tempat untuk menyucikan diri para raja Hindu Bali dan menjauhkan dari godaan dan syahwat dunia. Alam Bali semakin berkembang dan merevolusi dirinya sehingga menyentuh peradaban modern dimana simbol-simbol keagamaan tak lagi sebagai tempat peribadatan an sich, sekaligus juga sebagai lokasi wisata relijius yang diyakini bisa mengobati kegersangan ragawi, pun juga bathiniyah.
Salah satu pura yang kemudian “memamahbiakkan fungsinya” yaitu Pura Pagulingan yang terdapat di Gianyar. Di lingkungan pura ini terdapat sisa-sisa bangunan berbentuk stupa besar yang berbentuk segi delapan. Mengapa stupa banyak terdapat di lingkungan pura? Sudah menjadi keniscayaan bahwa stupa merupakan simbol pemujaan karena dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa yang Agung.
 
Pemandangan Sekitar
 
 
 
Bukan Bali namanya kalau di setiap sudut daerahnya, dimanapun itu, tak memberikan keindahan alamnya. Demikian halnya dengan keindahan sekitar di lingkungan Pura pagulingan ini. Keadaan sekitarnya sangat indah, posisinya berdekatan dengan Istana Kepresidenan Tampaksiring, serta lokasinya yang sangat strategis membuat banyak wisatawan yang menyempatkan diri berkunjung ke Pura Pagulingan. Lingkungan pura ini sempat tak diketahui rimbanya dan baru sekitar tahun 1983 ini diketemukan kembali berkat bantuan pemong desa setempat.
 
 
 
Pengamatan dan penggalian penyelamatan yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali berhasil menemukan sisa-sisa bangunan berupa stupa besar yang kakinya berbentuk segi delapan. Temuan lainnya yang sangat penting ialah sejumlah materi tanah liat yang memuat mantra Agama Budha. Beruntung peninggalan yang sarat nilai historis ini bisa ditemukan kembali, namun bukan berarti pihak berwenang cukup berhenti sampai disitu. Diperlukan komitmen untuk menjaga dan melestarikan Pura Pagulingan ini supaya tak lagi menghilang dan atau rusak.
 
Lokasi
 
Lingkungan Pura Pegulingan ini terletak di, tidak jauh di sebelah Timur lingkungan Pura Tirta Empul Tampaksiring dan dekat dari jalan jurusan Kintamani. Jarak dari kota Gianyar 16 Km dan dari kota Denpasar 38 Km.
 
 
Sumber:
http://bali.panduanwisata.id/pura-hindu-bali/merefleksi-diri-di-pura-pagulingan/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Panduan Mengenal Masakan Khas Karo
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Panduan Mengenal Masakan Khas Karo Masakan khas Karo merupakan warisan kuliner dari Tanah Karo, Sumatera Utara, yang dikenal dengan penggunaan rempah-rempah lokal yang kuat dan teknik memasak yang unik. Keanekaragaman hidangannya mencerminkan kekayaan alam pegunungan serta tradisi masyarakat Karo yang telah turun-temurun. Untuk dapat mengenali dan memahami kuliner ini, penting untuk memahami komposisi bumbu dasar, filosofi di balik nama hidangan, serta perbedaan antara masakan sehari-hari dan hidangan ritual yang mulai langka. Ciri Khas Rasa dan Bumbu Dasar Kunci utama dalam mengenali masakan Karo adalah kehadiran andaliman (merica Batak) dan kecombrang (honje atau bunga kantan) yang memberikan aroma dan sensasi rasa khas. Andaliman menghasilkan efek sedikit kebas di lidah, sementara kecombrang menambah aroma segar yang menyelimuti hidangan berat seperti daging atau ikan. Kombinasi kedua rempah ini menjadi penanda autentisitas masakan dari daerah tersebut. Selain itu, penggu...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Praktis Memahami dan Memainkan Angklung Jawa Barat
Alat Musik Alat Musik
Jawa Barat

Panduan Praktis Memahami dan Memainkan Angklung Jawa Barat Angklung merupakan alat musik tradisional multitonal yang menjadi identitas budaya Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda (Sumber 1, 6, 7). Terbuat dari bambu, instrumen ini menghasilkan bunyi yang khas melalui getaran dan telah menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang dikenal hingga mancanegara (Sumber 3, 5). Keunikan angklung terletak pada konsep "multitonal" atau bernada ganda, di mana satu instrumen menghasilkan dua nada berbeda secara bersamaan ketika digoyangkan (Sumber 7). Sebagai alat musik yang berkembang di Bumi Priangan (Sumber 2), angklung memiliki sejarah panjang sejak zaman dahulu dan awalnya sering digunakan dalam berbagai upacara adat serta pertanian (Sumber 3). Berbeda dengan instrumen tiup atau petik, angklung dimainkan dengan cara digetarkan sehingga memerlukan teknik khusus dalam penggunaannya, baik secara individu maupun dalam format orkestra yang melibatkan banyak pemain (Sumber 6). Karakt...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Legenda Nyi Roro Kidul:
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Daerah Istimewa Yogyakarta

Panduan Memahami Legenda Nyi Roro Kidul: Dari Mitos hingga Praktik Budaya Nyi Roro Kidul merupakan salah satu figur mitologis paling ikonik dalam khazanah cerita rakyat Nusantara. Dikenal sebagai penguasa Laut Selatan dalam tradisi Jawa dan Sunda, sosok ini tidak sekadar karakter fiksi, melainkan entitas budaya yang hidup dalam praktik kepercayaan, ritual, dan tata krama masyarakat pesisir selatan Jawa (Sumber 1, Sumber 8). Bagi para pelajar budaya, wisatawan, atau siapa pun yang ingin memahami warisan ini secara mendalam, penting untuk menyikapi legenda ini dengan pendekatan yang menghormati konteks historis dan spiritualnya. Artikel ini menyajikan panduan praktis untuk memahami, mengenali, dan menghargai legenda Nyi Roro Kidul secara utuh. Dengan memahami asal-usul, makna simbolik, serta tradisi yang menyertainya, pembaca dapat menyaksikan bagaimana mitos ini berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan kehidupan kontemporer masyarakat Jawa. Memahami Narasi Asal-Usul La...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Harmoni di Antara Ombak: Tradisi Nelayan Pantai Selatan
Ritual Ritual
Jawa Tengah

Harmoni di Antara Ombak: Tradisi Nelayan Pantai Selatan Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memoles permukaan Samudra Hindia dengan warna jingga keemasan, pesisir selatan Jawa mulai dipenuhi aktivitas yang berbeda dari hari-hari biasa. Di bulan Suro, tepatnya pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa, masyarakat nelayan dari Cilacap hingga Banten bersiap menyelenggarakan sebuah pertemuan sakral antara manusia dan lautan (Sumber 5). Bukan sekadar ritual rutin, ini adalah momen di mana doa dan harapan diikatkan pada irama ombak, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadikan laut tidak hanya sebagai sumber rezeki, tetapi juga ruang spiritual yang hidup. Jejak Spiritual Sang Ratu Selatan Di balik setiap jala yang dilabuhkan dan perahu yang diturunkan, terdapat keyakinan mendalam bahwa keselamatan dan kelimpahan tangkapan bukanlah hasil dari usaha manusia semata. Masyarakat pesisir selatan Jawa mengenal sosok Nyi Roro Kidul sebagai penguasa sekalig...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu