Mungkin ini alat musik yang paling unik karena dibuat bukan dari kayu, bukan dari bambu, bukan juga dari kulit, namun dibuat dari rumah siput yang dimainkan dengan cara ditiup.
Alat musik petik ini sering disebut juga dengan nama Tatabuhan. Bentuknya seperti siter yang memiliki senar. Dimainkan dengan cara dipetik senarnya. Bagian utamanya terbuat dari kayu yang diukir dan dibentuk sedemikian rupa.
Pada zaman dahulu kala tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencahadan sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat. Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna--warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Pelaksanaan upacara juga dimewahkan dengan pagelaran 'Gendang Guro-Guro Aron', musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya...
Gending Musik Jawa atau yang biasa disebut Gamelan Jawa. Musik yang mengedepankan alunan musik lembut. Gamelan sendiri terdiri dari beberapa alat musik yaitu kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking, kenong dan kethuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter, suling, kempul. Banyak orang yang kadang mereferensikan gending musik jawa sebagai lantunan yang mengundang arwah-arwah atau aroma mistik lainnya. Padahal tidak semua alunan gending jawa ini mengandung unsur mistik. Sebab dahulu para Sunan (wali songo) banyak yang menggunakan media gamelan sebagai sarana penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Gamelan banyak dijumpai di Indonesia, tapi gamelan jawa lah yang lebih kental dengan mitos-mitos spiritual dibandingkan dengan gamelan asal daerah lain. Beberapa mitos tentang Gamelan ialah larangan melangkahi nya. Orang-orang terdahulu mengatakan jika ada yang melangkahi gamelan, maka akan mengancam sang pelaku. Mitos lainnya adalah jika mendengar alunan gamelan pada mala...
Barong Ketet atau dengan istilah lainnya yaitu barong ket dan barong kekek, memakai sebuah topeng (tapel) yang disebut punggalan dengan di bagian kepala diisi gelungan yang disebut sekartaji yang dibuat dari kulit berukir. Di sela-sela dari kulit berukir ini ditempelkan pecahan kaca serta di dalam tubuhnya ditaruh gongseng. Badannya dihiasi bulu-bulu yang dibuat dari praksok (serat dari sejenis tanaman pandan), di samping itu ada pula memakai ijuk, bulu bangau dan bulu gagak. Apabila barong dimainkan memerlukan dua orang pemain yaitu seorang pada bagian kepala dan seorang lain pada bagian ekor. Dilihat dari segi bahasa, kata barong ketet terdiri dari kata barong dan ketet. Barong merupakan bentuk kata dasar yang menunjukkan benda, dan ketet berarti berhubungan atau bersambung. Jadi, barong ketet adalah suatu benda yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kepala dan bagian ekor yang dirangkaikan atau disambung menjadi satu. Dalam acara pertunjukan, barong membawakan...
Pemberian nama pada suatu “daerah” atau “tempat” tertentu biasanya dikaitkan dengan peristiwa atau cerita menarik yang pernah terjadi di daerah tersebut. Di Propinsi Riau, Indonesia, ada beberapa daerah yang memiliki nama berkaitan dengan perstiwa atau cerita yang pernah terjadi di daerah tersebut, misalnya cerita Legenda Batang Tuaka yang kemudian menjadi nama daerah yaitu Kecamatan Batang Tuaka yang masuk wilayah Kabupaten Indragiri Hilir. Namun, dalam suatu peristiwa atau cerita terkadang tidak hanya melahirkan satu nama daerah, akan tetapi bisa lebih dari itu. Konon, di daerah Kabupaten Kampar, Riau, pernah terjadi sebuah peristiwa atau cerita menarik yang melahirkan beberapa nama daerah atau tempat yang masih dikenal sampai sekarang. Daerah dan tempat yang dimaksud yaitu Lipat Kain, ibu kota Kecamatan Kampar Kiri Hulu; Sungai Ogong berada di Kecamatan Kampar Kanan; dan Danau Si Lancang . Nama daerah atau tempat tersebu...
Alkisah tersebutlah sebuah cerita, di daerah Kampar pada zaman dahulu hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua bekerja sebagai buruh tani. Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka. Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang. Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya, masih tinggal di Kampar dalam k...
Tari Tjenara Tarian ini melambangkan tata cara orang Timor menerima tamu. Para penarinya adalah wanita muda, masing-masing membawa cerana berisi daun sirih dan buah pinang yang akan ditawarkan kepada para tamu, sesuai tradisi setempat. Hal itu dimaksudkan sebagai penghormatan bagi mereka. Tari Bidu dan Tari Tenun Tari Bidu adalah sebuah tarian yang ceria, biasanya dipertunjukan pada acara festivval. Para penarinya adalah wanita muida yang memperlihatkan keterampilan menenun dengan gerakan-gerakan tangan. Tari Bidu dan Tari Tenun merupakan satu kesatuan. Tari tenun memperlihatkan kebiasaan di Pulau Timor menenun kain dan sarung. prosesnya dari mulai memilin kapas menjadi benang lalu ditenun menjadi kain digambarkan dengan keterampilan tangan. Tarian itu diiringi irama musik sesandu dan gitar.
Tari Rateb Meuseukat berasal dari Aceh, provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Pengaruh arab pada kebudayaan Aceh terlihat dari asal nama Reteb Meuseuket yang berasal dari bahasa Arab, rateb atau ratib yang berarti ibadah dan sakat yang memiliki definisi diam. Tarian ini dimainkan oleh sekelompok perempuan dengan baju adat Aceh dengan dominasi sikap simpuh dan menepuk tangan menghasilkan nada diiringisyair-syair dan alat musik asal Aceh, yaitu rapa'i, alat musik menyerupai rebana dan geundrang. Tarian Rateb Meuseukat diciptakan oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya) sementara syair-syair yang berisi sanjungan terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW diciptakan oleh seorang ulama abad XIX yang berasal dari Seunagan, Teuku Cik di Kala. Sesuai dengan syair-syair tersebut, awalnya Rateb Meuseukat berfungsi sebagai media dakwah Islam yang dimainkan setelah mengaji atau kegiatan pembelajaran Islam lainnya. Namun, lambat laun tarian tersebut ditampilkan pula dala...