Kesenian Musik Tingkilan

Tanggal oleh Aldi Riandana
Kategori: Musik dan Lagu
Elemen Budaya: Musik dan Lagu
Provinsi: Kalimantan Timur
Asal Daerah: Kutai Kartanegara

Seni budaya merupakan warisan leluhur dan asset yang sangat tak ternilai harganya.seni budaya harus dilindungi, dikembangkan dan dilestarikan agar generasi mendatang mengerti dan memahami warisan leluhur. Salah satunya adalah Kesenian Musik Tingkilan yang merupakan seni musik khas dari suku Kutai. Kesenian ini memiliki kesamaan dengan kesenian rumpun Melayu. Tingkilan lazimnya dimainkan pada acara-acara seperti pernikahan, pasca panen, Maulud Nabi Muhammad SAW, Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, Idul Adha, Nuzulul Qur'an, Tahun Baru Islam (Hijriah), dan upacara sakral seperti Erau.

Alat musik yang digunakan adalah:

1. Gambus
Gambus merupakan alat musik petik seperti mandolin. Alat musik ini berasal dari Timur Tengah. Pengaruh dari Timur Tengah dibawa oleh orang-orang melayu yang banyak bermukim di pesisir Kalimantan Timur. Kebanyakan orang-orang melayu beraga Islam.



Gambus yang digunakan untuk Tingkilan

2. Ketipung
Merupakan kendang kecil. Sebagaimana gambus, alat musik ketipung mendapat pengaruh kuat dari budaya timur tengah.

3. Kendang
Merupakan fondasi dari ensamble gamelan yang dipakai untuk mengiringi bebrapa kesenian, misalnya Tari Ganjur. Kendang merupakan produk budaya Jawa yang dipakai untuk mengiringi senimusik Tingkilan di Kutai Kartanegara. Ketika gambus mulai dipetik, maka kendang akan mengiringi alunan suara gambus. Kendang ini juga berfungsi untuk mengatur tempo dalam Tingkilan.

4. Biola
Pada dasarnya biola merupakan produk budaya Eropa. Masuknya biola diperkirakan terjadi ketika Pemerintahan Hindia Belanda berkuasa di Nusantara. Lewat akulturasi budaya, akhirnya biola masuk sebagai salah satu instrument dalam Tingkilan.

Selain alat musik diatas, tidak jarang salam setiap pementasan alat musik Tingkilan juga dipadukan dengan beberapa alat musik lainnya seperti gitar, bass, drum, dan rebana.

Tingkilan merupakan seni musik tradisional yang banyak menyisipkan pesan moral dalam lirik-lirik lagunya karena memuat banyak nasehat. Selain nasehat, tidak jarang lirik lagu juga berisi tenatang gambaran keindahan alam, percintaan, kalimat memuji, atau menyindir dengan kata-kata lucu.

Pada zaman dahulu, Tingkilan dinyanyikan oleh sepasang pria dan wanita. Mereka bernyanyi bersahut-sahutan. Dari unsur sahut-sahutan inilah maka dikenal istilah betingkilan yang bermakna bertingkah-tingkah atau bersahut-sahutan. Lewat istilah betingkilan tersebut, maka musik ini dikenal dengan nama Tingkilan. Musik Tingkilan ini sering digunakan untuk mengiringi tari pergaulan rakyat Kutai, yakni Tari Jepen.

Musik Tingkilan yang merupakan musik daerah pesisir Mahakam. Lagu yang di gunakan masyarakat zaman dahulu sebagai pengantar bahasa atau keinginan seseorang untuk menyampaikan sesuatu baik ilmu maupun nasihat serta pernyataan pribadi atau percintaan dalam bentuk pantun atau sindiran yang disampaikan saling berbalas pantun. Musik tingkilan juga biasa di tampilkan pada acara-acara seremonial baik yang bersifat keagamaan, upacara perkawinan, upacara pemberian nama anak (bayi) maupun acara-acara hiburan lainnya.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang bisa saya bagikan mengenai Kesenian Musik Tingkilan. Alangkah lebih baiknya informasi yang saya bagikan ini menjadi panduan dan referensi anda saat bersedia mengunjungi Kutai Kartanegara. Berkunjunglah ketempat kami dan dengarkan sendiri betapa indahnya alunan musik Tingkilan ini.

Sudah banyak sekali sanggar-sanggar yang terus melestarikan Kesenian Musik Tingkilan ini tidak terkecuali Congkil. Sepintas saat mendengar kata congkil kita pasti bertanya-tanya. Congkil itu apa? Bahasa apa itu?. Sebenarnya Congkil merupakan singkatan dari Keroncong Tingkilan. Musik Congkil ini diperkenalkan oleh Kelompok Musik Irama Bahari Tenggarong dibawah pimpihan Bapak H Syaiful Anwar Ibrahim SE MM atau lebih dikenal dengan panggilan Om Nueng.



Kelompok Musik Irama Bahari Tenggarong dibawah pimpihan Bapak H Syaiful Anwar Ibrahim SE MM

Launching Congkil sendiri diadakan di Ballroom Grand Elty Singgasana Hotel Tenggarogn sekita pertengahan bulan Oktober 2011 yang bertepatan dengan Pelaksanaan Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong ke 299. Tidak hanya memperkenalnya Congkil saja, acara launching itu juga sekaligus melincurkan Buku mengenai Sejarah Tingkilan. Saat ini Congkil sudah mempunyai 9 lagu diantaranya, Baju Ta'wo, Embangunan, Pariwisata, Kaltim Hijau dan lain-lain. Untuk lebih lengkapnya silahkan klik disini.



Pimpinan Kelompok musik Irama Bahari Syaiful Anwar Ibrahim (kiri) saat menyerahkan rekaman CD berisi 9 lagu Congkil kepada Asisten II Edy Damansah

Diharapkan lounching ini menjadi momentum memperkenalkan potensi seni budaya Kutai. Pemkab akan mendukung kreatifitas masyarakat untuk mengolah seni budaya daerah sebagai bagian dari promosi kepariwisataan Kutai. "Karena masih banyak potensi seni budaya kita yang terlupakan dan perlu diekspos kembali oleh mereka yang peduli dan trampil," demikian ujarnya. Acara lounching yang disiarkan langsung oleh Radio Keroncong Indonesia yaitu Lita FM Bandung Jawa Barat ini dimeriahkan pula penampilan orkes Tingkilan Karya Budi Tenggarong oleh penampilan penyanyi Andre dan Iin Indriani dari Kelompok Keroncong Tugu Jakarta yang merupakan pelopor seni musik keroncong di Indonesia.

JELAJAHI NUSANTARA SINGGAHI KUTAI KARTANEGARA!

aldiriandana_Aji_Septi___Baju_Takwo.mp3