MENGAPA HARUS DIAWALI KEBANGKITAN BUDAYA?

Dari BudayaIndonesia

Langsung ke: navigasi, cari

"Saudara-saudara, apakah yang dinamakan merdeka? Tahun 1933, saya telah menulis risalah yang bernama 'Mencapai Indonesia merdeka'. Maka didalam risalah itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, polietieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain tak bukan ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat."
- Soekarno -

Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun perlu diingat proklamasi di sini, bukanlah puncak monumental perjuangan revolusi fisik melawan penjajahan semata. Ia adalah sebuah jembatan emas menuju kesempurnaan masyarakat. Proses pembangunan yang kita kerjakan selama ini, pada dasarnya adalah upaya untuk mencapai kesempurnaan masyarakat.

Lalu apa yang dapat kita pelajari setelah 63 tahun perjalanan panjang bangsa ini? Apakah kita telah di jalur yang tepat? Di bandingkan dengan Negara-negara lain di Asia, Indonesia relatif lebih awal merdeka. Pada periode pertengahan tahun 1960-an pendapatan perkapita Negara di Asia nyaris sama, antara 50-100 USD. Lalu apa yang terjadi 40 tahun kemudian? Pendapatan perkapita kita hanya sekitar 1.200 USD. Malaysia 4 kali lebih besar. Korea Selatan 13 kali lipat di depan. Thailand 2 kali lebih besar. Bahkan, China yang baru bangkit setelah era Deng Xiaoping, akhir dekade 70-an, telah tumbuh menjadi 1,4 kali kita. Kita kian terlempar ke belakang.

Keterpurukan Indonesia saat ini, harus mampu kita refleksikan guna merentas jalan ke depan. Lalu darimanakah kita harus memulai?

Babak awal perjalanan bangsa Indonesia, tahun 1945-1968, ditandai oleh pertarungan ideologi yang sangat keras. Aliran nasionalis, komunis dan kelompok agama saling bertarung untuk merebut posisi politik. Lalu, apa yang terjadi? Konstituante gagal membentuk konstitusi. Pemberontakan terjadi dimana-mana. Partai-partai dan kelompok kepentingan saling bertarung, hingga meneteskan darah anak bangsa sendiri. Pada akhirnya doktrin “politik sebagai panglima” dianggap gagal membawa bangsa Indonesia menuju kesejahteraan.

Babak kedua perjalanan bangsa Indonesia, tahun 1968-1998, ditandai dengan berkembangnya paham developmentalisme. Ekonomi muncul menjadi panglima. Pada awalnya, semua tampak begitu sempurna. Indonesia mulai disebut-sebut sebagai salah satu “macan Asia”. Namun, apa yang terjadi sesungguhnya? Krisis ekonomi telah 1997 membongkar semuanya. Ekonomi kita ternyata tidak sekuat yang digembar-gemborkan. Dengan sangat menyakitkan, kita harus mengakui ramalan Paul Krugman, seorang ekonom kenamaan, yang menyebutkan Indonesia sebagai macan kertas. Sentralisasi ekonomi bahkan telah membawa Aceh, Riau dan Papua berada di tepi jurang disintegrasi. Pada akhirnya doktrin “ekonomi sebagai panglima” dianggap gagal membawa kemakmuran.

10 tahun setelah reformasi, periode 1998-2008, bangsa Indonesia berada di era transisi. Indonesia mulai mencari bentuk baru. Konstitusi, sistem politik, ekonomi, hukum, dan birokrasi terus dirombak untuk mencari bentuk ideal. Namun, ada sebuah titik penting yang nyaris kita lupakan, yaitu budaya. Mengapa budaya menjadi sangat penting?

Proklamator kita, Soekarno pernah berkata “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Lalu, kebijaksanaan apakah yang dapat kita pelajari dari sejarah untuk kemajuan Indonesia ke depan? Untuk itu, ada baiknya kita belajar dari kisah perjalanan peradapan besar yang mendominasi dunia saat ini.

Jalan Panjang Menuju Revolusi Industri

Semenjak runtuhnya kekuasaan Romawi, Eropa terus mengalami kemunduran. Para sejarawan menyebutnya sebagai periode kegelapan. Eropa berada di titik nadir peradaban ketika Spanyol Selatan dan Istanbul (Byzantium) jatuh. Tetapi, kenapa kemudian Eropa dapat bangkit hingga mendominasi dunia?

Titik balik peradapan Eropa terjadi pada abad ke-12. Charles Haskins, seorang ahli sejarah, menyebutkan bahwa pada periode ini terjadi sebuah proses revitalisasi kebudayaan Eropa. Pada masa ini lahir tradisi literatur rakyat yang memuat kisah kehidupan sehari-hari (vernacular), kebangkitan kembali (revival) sastra, puisi dan asas hukum Yunani dan Romawi kuno, hingga kesadaran akan pentingnya penggalian kembali tradisi sains yang berkembang di Yunani, Arab dan Romawi.

Titik puncak dari proses revitalisasi tersebut terjadi pada abad ke-14 sampai dengan abad ke-17. Sejarah mencatatnya sebagai renaisan Eropa. Sejumlah karya dan nama besar muncul di periode ini, mulai dari Dante Alighieri, Leonardo da Vinci, hingga Michelangelo Buonarroti.

Pada tahun 1543 lahir dua karya besar yang memulai sebuah revolusi baru, yaitu “De Revolutionibus Orbium Coelestium” (On the Revolutions of the Heavenly Spheres) oleh Nicolaus Copernicus dan “De Humani Corporis Fabrica” (On the Fabric of the Human body) oleh Andreas Vesalius. Fase ini kemudian disebut oleh para sejarawan sebagai revolusi sains atau revolusi Copernican. Babak ini berlangsung dari abad ke-16 hingga abad ke-17.

Kulminasi dari proses panjang tersebut akhirnya melahirkan sebuah periode baru yang saat ini kita kenal sebagai revolusi industri. Ia berlangsung dari abad 18 hingga abad 19. Babak ini ditandai dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt. Penemuan ini membawa perubahan besar-besaran di sektor agrikultur, manufaktur dan transportasi.

Budaya Sebagai Panglima Kebangkitan Bangsa

Dari cerita di atas, secara garis besar, kebangkitan Eropa dapat kita bagi menjadi 4 babak, yaitu periode revitalisasi kebudayaan (abad 12-13), renaisan (abad 14-17), revolusi sains (abad 16-17) dan revolusi industri (abad 18-19). Kebijaksanaan apa yang dapat kita petik dari kisah di atas?

Kebangkitan Eropa merupakan sebuah perjalanan yang sangat panjang yang dimulai dari proses revitalisasi budaya. Catatan ini menunjukkan bahwa budaya memiliki perananan yang sangat penting dalam proses kebangkitan Eropa. Hal ini juga akan kita jumpai dalam studi sejarah di Amerika Serikat, Jepang dan China. Empat peradapan besar, yang mendominasi dunia saat ini, telah mengajarkan kita bahwa budaya hendaknya dijadikan tulang punggung kebangkitan bangsa.

Uraian di atas telah menunjukkan bahwa budaya memiliki peranan yang sangat penting dalam proses kebangkitan sebuah bangsa. Untuk itu, kita membutuhkan sebuah visi kebudayaan. Visi inilah yang kemudian dapat kita jadikan kompas pemandu arah perjalanan budaya bangsa. Elemen-elemen kebudayaan di Indonesia harus bersatu dan bersinergi bersama. Saatnya budaya Indonesia bangkit dan menjadi panglima. (rmd)

Peralatan pribadi